https://banyuwangi.times.co.id/
Sosok

Kisah Edi Suprandono, dari Dokter Gigi Jadi Petani Buah Naga

Jumat, 02 Januari 2026 - 09:27
Kisah Edi Suprandono, dari Dokter Gigi Jadi Petani Buah Naga Banyuwangi Ketua Kelompok P4S Suka Tani, drg. Edi Suprandono, sukses mengembangkan buah naga. (FOTO: Fazar Dimas/TIMES Indonesia)

TIMES BANYUWANGI, BANYUWANGI – Jalan hidup seseorang terkadang berbelok jauh dari profesi yang digeluti sejak awal. Itulah yang dialami Edi Suprandono, seorang dokter gigi yang justru menemukan semangat dan pengabdiannya di dunia pertanian, khususnya budidaya buah naga di Banyuwangi, Jawa Timur.

Saat ini, drg. Edi dikenal sebagai Ketua Kelompok P4S Suka Tani yang berlokasi di Desa Sidorejo, Kecamatan Purwoharjo. Selama lebih dari 15 tahun, dia konsisten menekuni dunia pertanian hortikultura, dengan fokus utama pada tanaman buah.

“Pertanian itu luar biasa. Dunia ini membuat saya lebih bersemangat, mulai dari pengembangan, budidaya, sampai inovasi-inovasi yang bisa terus dilakukan, terutama pada tanaman buah,” ujar drg. Edi, Jumat, (2/1/2026). 

Berawal dari Pembibitan Tanaman Buah

Kelompok P4S Suka Tani dirintis dari usaha pembibitan tanaman buah bersertifikat dan berlabel. Dari usaha kecil tersebut, Suka Tani terus berkembang dan mampu bertahan hingga kini.

Buah-Naga-Kuning.jpgBuah Naga Kuning hasil budidaya  drg. Edi Suprandono. (FOTO: Fazar Dimas/TIMES Indonesia)

“Alhamdulillah, setelah 15 tahun berkecimpung di pembibitan, kami masih bisa bertahan sampai hari ini,” ungkapnya.

Seiring waktu, peran P4S Suka Tani semakin luas. Sejak tahun 2021, kelompok ini juga bergerak di bidang pelatihan dan permagangan pertanian melalui skema Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya (P4S).

Suka Tani tergabung dalam Forum Komunikasi P4S Banyuwangi dan berada di bawah pembinaan Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Ketindan, Jawa Timur. Secara berkala, pelatihan dan permagangan digelar bagi petani sekitar, mahasiswa, hingga siswa SMK pertanian yang tertarik mendalami dunia hortikultura.

“Pertanian itu sangat luas. Dampaknya bagi kami, Alhamdulillah, bisa merasakan langsung hasil dari pertanian sendiri, dan jaringan usaha kami juga semakin berkembang,” katanya.

Banyuwangi sebagai Gudang Buah Nusantara

Menurut drg. Edi, Banyuwangi memiliki potensi besar sebagai sentra hortikultura nasional. Daerah ini bahkan layak disebut sebagai gudangnya buah naga Nusantara.

“Banyuwangi ini penyangga buah nasional. Untuk buah naga merah, Banyuwangi menjadi daerah dengan produksi terbesar se-Indonesia,” jelasnya.

Tak hanya itu, Banyuwangi juga tengah menorehkan sejarah varietas unggul. Pemerintah daerah melalui Bupati Banyuwangi dan Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertan) Banyuwangi, telah mendaftarkan varietas Naning Wangi (buah naga kuning) dan Bang Wangi (buah naga merah) ke Kementerian Pertanian melalui Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian.

“Terima kasih atas dukungan dan bantuan dari semua pihak. Insya Allah, dalam waktu dekat proses pelepasan varietas ini selesai dan bisa dikembangkan secara luas di tingkat nasional,” ujarnya drg. Edi.

Tantangan Mengembangkan Buah Naga Kuning

Meski menjanjikan, budidaya buah naga kuning tidak lepas dari tantangan. Salah satu kendala utama terletak pada proses penyerbukan.

“Buah naga kuning membutuhkan serbuk sari dari buah naga merah agar hasil buahnya besar. Kalau penyerbukan dilakukan dengan sesama naga kuning, buahnya cenderung kecil,” terang drg. Edi.

Selain itu, masalah klasik seperti serangan jamur dan penyakit cacar masih menjadi tantangan, terutama saat musim hujan. Untuk mengatasinya, Suka Tani menggandeng akademisi dari sejumlah perguruan tinggi untuk melakukan riset dan penelitian.

“Harapannya, hasil riset ini bisa menjadi referensi bagi petani dan pemuda tani yang ingin menggeluti budidaya buah naga lebih dalam,” katanya.

Potensi Ekonomi yang Menjanjikan

Dari sisi ekonomi, buah naga kuning memiliki nilai jual yang tinggi. Saat ini, harganya bisa mencapai Rp24.000–Rp25.000 per kilogram, jauh di atas harga buah naga merah yang berkisar Rp8.000–Rp10.000 per kilogram.

Buah naga kuning sendiri merupakan varietas introduksi dari luar negeri, yang awalnya dikembangkan di Taiwan sebelum masuk ke Indonesia dan kini dikembangkan di Banyuwangi.

“Dari segi rasa juga berbeda. Kalau buah naga merah cenderung manis dan berair, buah naga kuning rasanya lebih masam,” jelasnya.

Menanam Masa Depan dari Pertanian

Bagi drg. Edi Suprandono, pertanian bukan sekadar pilihan profesi, melainkan jalan untuk berkontribusi bagi daerah dan bangsa. Melalui inovasi, pelatihan, dan pengembangan varietas unggul, ia berharap pertanian Banyuwangi terus tumbuh dan menjadi inspirasi bagi generasi muda.

“Dengan pertanian, kami ingin membawa inovasi yang bisa dikembangkan di wilayah lain, sekaligus membuka peluang bagi anak-anak muda untuk mencintai dunia tani,” kata drg. Edi Suprandono. (*)

Pewarta : Fazar Dimas Priyatna
Editor : Ferry Agusta Satrio
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Banyuwangi just now

Welcome to TIMES Banyuwangi

TIMES Banyuwangi is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.