Banyuwangi Jadikan Gandrung sebagai Ruang Merawat Tradisi dan Identitas Budaya
Pertunjukan Gandrung Terop di Sekolah Adat Pesinauan Osing Banyuwangi. (FOTO: Ikromil Aufa/TIMES Indonesia)

Banyuwangi Jadikan Gandrung sebagai Ruang Merawat Tradisi dan Identitas Budaya

Gandrung tidak lagi dipandang sebagai sekadar seni pertunjukan di Banyuwangi. Di balik gerak tari, irama musik, dan syair yang mengalun, tersimpan ingatan kolektif masyarakat Osing yang terus dijaga lintas generasi.

TIMES Banyuwangi,Kamis 14 Mei 2026, 13:45 WIB
2.4K
S
Syamsul Arifin

BANYUWANGIGandrung tidak lagi dipandang sebagai sekadar seni pertunjukan di Banyuwangi. Di balik gerak tari, irama musik, dan syair yang mengalun, tersimpan ingatan kolektif masyarakat Osing yang terus dijaga lintas generasi.

Semangat itulah yang diangkat dalam rangkaian kegiatan budaya bertajuk “GANDRUNG: Tubuh Kolektif, Gairah Tradisi, Warisan Bersama” yang digeber di Pesinauan Sekolah Adat Osing, Dusun Joyosari, Desa Olehsari, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, pada Rabu (13/5/2026).

Kegiatan tersebut mempertemukan para seniman tradisi, akademisi, dokumentator budaya, hingga komunitas masyarakat adat Osing dalam satu ruang bersama.

Tidak hanya menjadi ajang pertunjukan seni, gelaran ini juga menjadi ruang refleksi budaya untuk merawat identitas lokal di tengah arus modernisasi yang terus berkembang.

article
Penyerahan buku “GANDRUNG: Tubuh Kolektif, Gairah Tradisi, Warisan Bersama”. (FOTO: Ikromil Aufa/TIMES Indonesia)

Kegiatan ini merupakan bagian dari pelaksanaan Program Dana Indonesiana yang diselenggarakan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui dukungan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) dalam skema Program Layanan Produksi Media Dokumentasi Karya/Pengetahuan Maestro atau Pemajuan Kebudayaan (OPK) Rawan Punah Tahun 2025.

Melalui program tersebut, Gandrung diposisikan sebagai warisan budaya yang hidup dalam keseharian masyarakat Bumi Blambangan.

Pengetahuan tentang Gandrung tidak hanya diwariskan melalui panggung pertunjukan, tetapi juga melalui tubuh para maestro, para panjak, sanggar-sanggar desa, hingga ruang sosial masyarakat yang selama ini menjaga tradisi tetap bertahan.

Sebagai bahan dari diseminasi publik, kegiatan ini menghadirkan peluncuran buku “Menari di Atas Kertas: Tubuh dan Ingatan dalam Arsip Visual Gandrung”, karya Wiwin Indiarti dan Anasrullah. 

Buku tersebut memadukan arsip visual, catatan etnografis, dan refleksi budaya mengenai Gandrung sebagai tubuh kolektif masyarakat Osing.

Selain peluncuran buku, pengunjung juga disuguhi pameran memorabilia Gandrung yang menampilkan dokumentasi perjalanan Gandrung dari masa ke masa.

Arsip foto, media rekam lama, hingga dokumentasi pertunjukan ditampilkan sebagai bagian dari upaya merawat jejak pengetahuan budaya Banyuwangi.

Suasana semakin hidup saat pemutaran film dokumenter Gandrung yang merekam dinamika tradisi tersebut di tengah perubahan sosial budaya masyarakat. Film itu menjadi pengingat bahwa Gandrung terus berkembang tanpa kehilangan akar tradisinya.

Puncak kegiatan ditandai dengan pagelaran Gandrung Terop bersama para maestro dan generasi penerus. Lima Gandrung lintas generasi tampil dalam satu panggung, yakni Gandrung Temu, Gandrung Dartik, Gandrung Sunasih, Gandrung Mudaiyah, dan Gandrung Lina.

Tujuh dari delapan sesi pertunjukan turut ditampilkan, mulai Giro Gandrung, Topengan, Jejer, Gedhog, Repenan, Pajuan, hingga Seblang Subuh. 

Pertemuan para Gandrung tersebut menjadi simbol kesinambungan tradisi sekaligus penghormatan terhadap para pelaku seni yang selama ini menjaga nyawa Gandrung tetap hidup.

Koordinator Program sekaligus Ketua Pesinauan-Sekolah Adat Osing, Slamet Diharjo, mengatakan kegiatan ini menjadi ikhtiar bersama agar Gandrung tidak berhenti sebagai tontonan semata, melainkan terus dipelajari, dipraktikkan, dan dimaknai ulang oleh generasi baru.

“Gandrung adalah ingatan kolektif masyarakat Banyuwangi. Ia hidup bukan hanya di atas panggung, tetapi juga dalam cara masyarakat menjaga hubungan dengan tubuh, tradisi, dan kehidupan sehari-hari,” ucap Samsul, sapaan akrabnya.

Melalui kegiatan tersebut, diharapkan lahir ruang dokumentasi budaya berbasis komunitas yang mampu memperkuat regenerasi seni tradisi, memperluas apresiasi publik terhadap Gandrung, sekaligus memperkokoh identitas budaya lokal Banyuwangi di tengah perubahan zaman. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita ini juga tayang di portal nasional

Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

Baca di sini
Penulis:Syamsul Arifin
|
Editor:Imadudin Muhammad

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Banyuwangi, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.