Sebanyak 503 Jemaah Haji Banyuwangi Berstatus Lansia, Tertua 103 Tahun
Jemaah haji asal Banyuwangi didominasi kalangan Lanjut Usia (Lansia).
BANYUWANGI – Semangat menunaikan ibadah haji tak pernah mengenal batas usia. Tahun ini, jemaah haji asal Banyuwangi didominasi kalangan Lanjut Usia (Lansia). Bahkan, jemaah tertuanya tercatat berusia 103 tahun.
Sosok tersebut adalah Ropingi, warga Desa Jambewangi, Kecamatan Sempu. Di usianya yang sudah lebih dari satu abad, semangat Ropingi untuk berangkat ke Tanah Suci tetap begitu kuat.
Pria sepuh itu dikenal memegang teguh motto hidup “bekerja untuk ibadah”. Prinsip tersebut yang selama ini menjadi penyemangatnya menjalani kehidupan hingga akhirnya mendapat kesempatan menunaikan rukum Islam kelima.
Tak hanya Ropingi, kisah penuh haru juga datang dari Bilal Saidun (85), warga Dusun Pancursari, Desa Benculuk, Kecamatan Cluring. Bilal berangkat haji bersama sang istri, Insiyah, setelah menanti belasan tahun.

Sebagai petani jeruk, Bilal mengaku tak pernah menyangka dirinya bia berangkat ke Tanah Suci. Dia dan istrinya diketahui telah mendaftar haji sejak tahun 2013.
Meski sudah lanjut usia, kondisi kesehatan Bilal terbilang prima. Meski tubuhnya sudah terlihat renta, dia bahkan mengaku tidak rutin mengkonsumsi obat-obatan.
“Sehari-hari ya minumnya kopi,” cetus Bilal, saat ditemui sebelum keberangkatan jamaah haji kloter 82 dan 83 di depan Kantor Bupati Banyuwangi, pada Selasa (12/5/2026).
Rasa syukur juga tak bisa disembunyikan Bilal karena dari banyaknya rekan yang mendaftar haji bersamaan dengannya, sebagian telah meninggal dunia sebelum sempat berangkat.
Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah Banyuwangi, Rif’an Junaidi, mengatakan bahwa total jamaah haji asal Bumi Blambangan tahun ini mencapai 1.312 orang. Mereka terbagi dalam lima kloter, yakni kloter 72, 82, 83, 84, dan 85.

“Dari jumlah itu, jamaah Lansia tahun ini cukup besar. Berdasarkan data Dinas Kesehatan terdapat sekitar 503 jamaah lansia berusia di atas 65 tahun. Untuk kategori risiko tinggi atau risti ada sekitar 144 jamaah,” jelasnya.
Menurut Rif’an, jamaah lansia, risiko tinggi, dan disabilitas, menjadi prioritas pelayanan selama pelaksanaan ibadah haji. Pemerintah pun menyiapkan sejumlah program khusus agar mereka dapat menjalankan ibadah dengan lebih aman dan nyaman.
Salah satu fasilitas yang disiapkan adalah program murur, yakni skema perjalanan jamaah dari Arafah menuju Mina tanpa harus turun dan bermalam di Muzdalifah.
“Program ini untuk mengurangi kepadatan dan menjaga kondisi kesehatan jamaah, khususnya lansia dan risiko tinggi,” bebernya.
Dengan berbagai fasilitas dan pendampingan yang disiapkan, diharapkan seluruh jamaah, terutama para lansia, dapat menjalankan rangkaian ibadah haji dengan lancar, sehat, dan kembali ke Banyuwangi sebagai haji yang mabrur dan mabruroh. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

