Kopi TIMES

Gempuran Pandemi dan Ancaman Generasi Blank

Kamis, 29 Juli 2021 - 03:07
Gempuran Pandemi dan Ancaman Generasi Blank Indah Mei Astuti, S.S, M.Pd, Guru Bahasa Inggris SMK PPN 1 Tegalampel - Bondowoso.

TIMES BANYUWANGI, BONDOWOSO – Corona Virus Disease 2019 yang lebih populis dikenal dengan Covid-19 melanda hampir seluruh negara di dunia termasuk di Indonesia. Organisasi kesehatan dunia (WHO) pada akhirnya sejak tanggal 11 Maret 2020 menetapkan wabah ini sebagai pandemi global. Tidak bisa dipungkiri, wabah massif ini menyebabkan kepanikan luar biasa bagi seluruh masyarakat dan menjadi “tsunami” bagi seluruh sektor kehidupan, juga dunia pendidikan tentunya.

Pemerintah Indonesia pun dengan sigap mengambil berbagai kebijakan yang bertujuan untuk memutus rantai penularan pandemi Covid-19. Tentu saja segala macam kebijakan yang dikeluarkan akan menjadi pro dan kontra di masyarakat. Pro dan kontra tersebut tentu saja berlatar belakang dari sebuah sudut pandang yang berbeda dari beragamnya jenis profesi dan pola berfikir, diperkuat dengan derasnya arus informasi yang begitu beragam dan mudah di akses oleh setiap manusia Indonesia. 

Pada dunia pendidikan, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) sebenarnya telah menerbitkan Surat Edaran Nomor 15 Tahun 2020 tentang Pedoman Penyelenggaraan Belajar Dari Rumah Dalam Masa Darurat Penyebaran Covid-19 Pembelajaran dilaksanakan secara daring atau belajar dari rumah menggunakan sistem online.

Kebijakan tersebut pada awalnya sangat berat dilakukan, mengingat masih terjadi kesenjangan fasilitas internet dari luasnya wilayah NKRI. Di samping itu, masih banyakya pendidik yang gagap teknologi diperparah dengan keterbatasa fasilitas pendukung peserta didik untuk bisa maksimal mengikuti pembelajaran daring. Pelan tapi pasti, kendala-kendala tersebut dari hari ke hari sebenarnya dengan gotong royong bisa terpecahkan. Sampai di sini, pelajaran berharga yang dapat diambil adalah tentang teknologi yang semakin canggih menyadarkan kita akan potensi luar biasa internet yang belum dimanfaatkan sepenuhnya dalam berbagai bidang, termasuk bidang pendidikan. Tanpa batas ruang dan waktu, kegiatan pendidikan bisa dilakukan kapanpun dan dimanapun melalui daring atau online.

Pandemi covid-19 yang terus melakukan gempuran luar biasa dengan varian-varian barunya, diakui atau tidak menjadi kegamangan bagi mas menteri Nadiem Makarim untuk membuka Pembelajaran Tatap Muka (PTM). PTM sedianya akan dibuka bertahap mulai awal Juli 2021 pada akhrinya harus kembali tertunda karena kebiajakan Pemberlakua Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) dari 3 Juli hingga 20 Juli dan pada akhirnya diperpanjang hingga 25 Juli. Sementara itu, desakan yan tak kalah kuatnya dari masyarakat agar sekolah segera dibuka dengan berbagai faktor juga menjadi pertimbangan tersendiri.  

Salah satunya yang dipaparkan oleh Tanoto Foundation berdasarkan hasil survei terkait pembelajaran jarak jauh (PJJ) pada 332 kepala sekolah, 1.368 guru, 2.218 siswa, dan 1.712 orang tua ditemukan tiga masalah utama. Pertama, sebanyak 56 persen orang tua yang jadi responden mengaku kurang sabar dan jenuh menangani kemampuan dan konsentrasi anak yang duduk di bangku SD/MI dan 34 persen orang tua yang anaknya duduk di bangku SMP/MTs. Kedua, orang tua kesulitan menjelaskan materi pelajaran ke anak untuk SD/MI (19 persen) dan SMP/MTs (28 persen). Ketiga, Orang tua kesulitan memahami materi pelajaran anak untuk SD/MI (15 persen) dan SMP/MTs (24 persen).

Data tersebut menunjukan kelangsungan belajar mengajar yang tidak dilakukan di sekolah berpotensi menimbulkan dampak negatif yang berkepanjangan. Pada akhirnya tujuan pendidikan dan fungsi sekolah untuk menciptakan proses pembelajaran dan suasana belajar tidak tercapai. Akan tetapi, data tersebut di atas sebenarnya bisa menjadi evaluasi terkait kurang maksimalnya peran pendidikan keluarga yang diharapkan lebih maksimal menjadi “sekolah” selama pandemi.

Di samping itu, data tersebut juga bisa dijadikan analisis bagaimana kurang maksimalnya guru dalam memberikan penugasan kepada peserta didik dan kurang terciptanya hubungan harmonis antara sekolah dengan keluarga peserta didik. Fenomena inilah yang dikahwatirkan akan melahirkan generasi blank dunia pendidikan di tengah gempuran pandemi yang begitu dahsyat.

Generasi blank adalah generasi kosong, di mana peserta didik tidak mengerti dan memahami sama sekali materi yang diajarkan oleh guru. Kondisi tersebut sebenarnya dirasakan karena adanya perubahan yang mendasar, dari belajar di sekolah dengan tatap muka langsung dengan guru menjadi sekolah di rumah saja secara virtual.

Melihat realitas ini, mungkin pakar Behavioural Psychology Alasdair A. K. White hanya tersenyum dengan menyatakan bahwa semua ini tidak lebih hanya karena persoalan banyak orang yang terjebak pada zona nyaman. Di samping itu, mungkin kita semua lupa akan peribahsa Alah bisa oleh (krn) biasa yang bermakna perbuatan yang sukar, kalau sudah biasa dikerjakan, tidak terasa sukar lagi; kalah kepandaian oleh latihan.

Pada dasarnya generasi blank ini sebenarnya bukan ancaman yang menakutkan dan berpotensi membunuh generasi emas. Akan tetapi, akan lebih tepat jika generasi blank ini semacam menjadi “warning” bagi pemerintah selaku pembuaat kebijakan, pendidikan keluarga, dan pendidikan sekolah untuk meningkatkan perannya masing-masing. Pemerintah melalui Kemdikbud Ristek Dikti sebenarnya telah banyak memberikan kebijakan selama gempuran pandemi Covid -19 dengan menginisiasi program Belajar dari Rumah yang ditayangkan di TVRI sejak 13 April 2020. Di samping itu, negara telah hadir dengan memberikan bantuan kuota internet gratis, peluncuran portal Guru Berbagi, relaksasi penggunaan BOS dan BOP untuk pembayaran honor guru, bantuan Uang Kuliah Tunggal (UKT) untuk 410 ribu mahasiswa, BOS Afirmasi dan BOS Kinerja diperluas cakupannya untuk sekolah swasta (bukan hanya sekolah negeri). 

Pemindahan “kekuasaan” pembelajaran dari sekolah ke rumah menjadi tantangan yang luar biasa bagi orang tua sebagai garda terdepan pendidikan era pandemi Covid-19. Hadirnya orang tua dalam mendampingi anak-anaknya pada proses belajar dari rumah adalah sesuatu yang yang sangat bermakna bagi anak-anak.

Jadi, titik tekan pendidikan keluarga bukan pada pengaruh latar belakang pendidikan orang tua terhadap cara mengajari anak, tapi lebih kepada intensitas pendampingan orang tua pada proses belajar anak di rumah. Sehingga, modal orang tua dalam mendukung proses belajar anak di rumah hanyalah seperti; penciptaan suasana belajar di rumah yang nyaman dan menyenangkan, selalu memberikan apresiasi, melakukan komunikasi penuh cinta, dan menjadi teladan yang baik dalam segala hal. Sehingga, tidak ada alasan lagi bagi orang tua berkata tidak bisa mendidik anak karena alasan latar belakang pendidikan, tidak tahu cara mendidik, dan alasan kesibukan.  

Sekolah sebagai satuan pendidikan harus terus melakukan perubahan-perubahan, terlebih kepada para guru untuk terus melalukan kreatifitas dan inovasi pembelajaran selama pandemi. Guru harus lebih intim berhubungan dengan teknologi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Guru dapat memilih sarana pembelajaran seperti; aplikasi google meet, aplikasi zoom, google classroom, youtube, televisi, whatsapp, SMS, hingga aplikasi terbaru dari KemdikbudRistekDikti yaitu Akun Belajar.id.

Langkah pertama dan terpenting guru adalah pemilihan media belajar berbasis kondisi peserta didik di saat pandemi. Hal ini penting dilakukan agar semua peserta didik benar-benar bisa mengikuti pembelajaran guru agar bisa menjauhi “warning” generasi blank tersebut. Alternatif skenario pembelajaran model kelompok belajar (pokjar) juga bisa dilakukan oleh guru jika peserta didik benar-benar mengalamai keterbatasan media belajar. Akhirnya, generasi blank tidak akan pernah menjadi ancaman bagi dunia pendidikan asalkan terdapat hubungan yang harmonis dan produktif antara sekolah dengan keluarga untuk melakukan pendidikan berkualitas kepada generasi emas bangsa Indonesia. 

***

*) Oleh : Indah Mei Astuti, S.S, M.Pd, Guru Bahasa Inggris SMK PPN 1 Tegalampel - Bondowoso.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

***

**) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: opini@timesindonesia.co.id

**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.

Pewarta :
Editor : Faizal R Arief
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Banyuwangi just now

Welcome to TIMES Banyuwangi

TIMES Banyuwangi is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.