Forum Mahasiswa

Membangun Moralitas di Era Bebas

Jumat, 19 Agustus 2022 - 20:04
Membangun Moralitas di Era Bebas Muhammad Nurul Iman, Mahasiswa Tadris/Penddikan Bahasa Indonesia Intitus Agama Islam Darussalam Blokagung.

TIMES BANYUWANGI, BANYUWANGI – “Sesungguhnya aku (Muhammad) diutus hanyalah untuk menyempurnakan (memperbaiki) akhlaq manusia”. Demikian sabda Nabi. Diutusnya Nabi di muka bumi ini ialah untuk memperbaiki akhlaq manusia. Pendapat lain mengatakan salah satu tujuan syariat Islam ialah untuk menyucikan hati dan meluruskan akhlaq.

Berbicara moralitas pada era bebas saat ini sungguh memprihatinkan. Bagaimana tidak? Hampir setiap detik media cetak maupun media elektronik berlomba-lomba mengabarkan berita tentang kemerosotan moral. Hampir seluruh insan diteror kemerosotan moral, baik pejabat, rakyat miskin, rakyat kaya, para pemimpin, hingga kenakalan remaja yang melebihi batas. Naudzubillahi min dzalik.

Fenomena yang nampak di pelupuk mata, disadari maupun tidak, saat ini sungguh di ujung kehancuran. Banyak golongan muda berbondong-bondong mendaftarkan dirinya menjadi jambu mete/jambu monyet, banyak anak yang melawan orang tua, menindas yang lebih muda.

Sudah tidak menjadi hal yang mengagetkan pada siaran berita tentang kasus ayah dipenjarakan anaknya, atau sebaliknya. Entah apa yang ada di benak mereka. Hal demikian lagi-lagi karena kurang menjunjungnya nilai-nilai moral yang ada.

Sepertinya problematika kemerosotan moral, tindakan kriminal sudah menjadi hal yang trending di muka bumi ini, sudah menjadi sego-jangan (makanan setiap hari). Padahal moral sendiri merupakan pranata yang paling utama untuk menata diri. Maka sudah tak heran jika lebih mengedepankan moral dari pada hanya sekedar pintar, percuma pintar bila tidak bermoral. 

Di antara penyebab moral merosot ialah karena moralitas dipahami hanya sekedar teori belaka. Hal ini dibuktikan dengan sudah berapa banyak seminar-seminar diadakan, sudah berapa kali pelatihan dilakukan, sudah banyak bilangan khutbah-khutbah didengar, namun nyatanya hanya sekilas angin berterbangan “mlebu kuping tengen metu kuping kiwo”. Percuma saja! Bagaikan meminum air laut.

Jika sudah demikian moral sedikit demi sedikit mulai terkikis oleh zaman. Apalagi pada era yang bebas saat ini, mudah sekali menjual moral, menganggap remeh etika. Jangankan moral, mereka tak segan-segan mereka bandrol Agama layaknya kerupuk yang digantung di warung makan.

Tak karuan sudah!

Ironisnya bila kemerosotan moralitas menjadi warisan turun-temurun pada generasi selanjutnya, adik-adik kita, anak-anak kita kelak. Jika dipikir secara logis, mau mencontoh siapa lagi kalau bukan kita? Mau bercermin pada siapa lagi kalau bukan pada generasi sebelumnya? Naasnya sudah menjadi warisan yang negatif jika yang memberikan contoh saja jauh dari apa yang diharapkan, di mana cermin-cermin yang dulu bersih sekarang ternodai bintik-bintik hitamnya moral.

Memiliki moral merupakan suatu keharusan, kewajiban bagi setiap individu. Maka dari itu moral harus diwujudkan dalam bentuk tindakan bukan tulisan, pelaksanaan bukan kekuasaan, esensi bukan teori, dan seterusnya. Jangan salah dalam mengartikan moral! Orang yang parasnya menawan, putih, semampai, belum tentu tertanam secuil moral dan bisa jadi orang yang miskin, masyarakat biasa, petani, dan penjual sayur lebih lihai dalam bermoral.

Lalu apa yang harus dilakukan untuk membangun moral pada era bebas saat ini? Coba lihat kembali pernyataan awal. Hadits diatas secara otomatis menuntut kita untuk meniru, mencontoh segala tindak-tanduk Nabi Muhammad, karena apa? Ya! memang Nabilah manusia yang sempurna di muka bumi ini, sempurna moral, dan yang lainnya. 

Dengan menyandang gelar sebagai al-ma’sum menjadikan seluruh yang beliau lakukan pasti mengandung segi positif, dijaga dari perbuatan tercela. Rasulullah sendiri selalu menekankan aspek kebaikan, kejujuran, kesalehan, dan keadilan bagi seluruh kalangan tanpa memandang warna kulit, keyakinan, suku, serta ras.

Selain itu Rasulullah selalu berpesan agar umatnya tidak menuruti nafsu, diperbudak hawa nafsu. Karena nafsu adalah sumber kemungkaran dan kemrosotan akhlaq. Sebagaimana yang sudah menjadi banyak kesepakatan, jika orang yang bisa menahan hawa nafsunya maka derajatnya mulia bahkan melebihi derajat para malaikat, begitu juga sebaliknya. Jika tidak bisa menahan hawa nafsunya, maka derajatnya menjadi rendah bahkan lebih rendah dari hewan. Pertanyaannya, di mana posisi kita saat ini? Bisa dibayangkan sendiri derajat lebih rendah dari hewan seperti apa? 

Memang nafsu sendiri tergolong sebagai makhluk yang ganas, kalau penulis menyebutnya nafsu itu lunyu (licin), susah untuk dikendalikan. Oleh sebab itu musuh terbesar kita saat ini bukan lagi penjajah, bukan lagi godaan syaitan, melainkan hasutan hawa nafsu. Setan saja tergeser kedudukannya oleh inisial N ini. Jika sudah demikian, marilah para penduduk bumi jangan sekali-kali terbujuk dari bisikan hawa nafsu, jangan mau diperbudaknya. Sejatinya yang memegang tali kendali itu kita bukan nafsu.

Akhlaq yang baik dimulai dari diri sendiri, dengan itu perlu adanya pengembangan empati. Dengan cara menjunjung tinggi nilai-nilai moral, meningkatkan kepekaan terhadap yang lain, dan saling mengingatkan antar sesama. Mari kita bangun merah-putih ini dengan mengamalkan moralitas yang baik, menyadari perbuatan mana yang salah dan mana yang benar. Jangan merusak Negeri ini dengan kehitaman moral. Singkatnya “nggak ikut perang kok malah ngerusak”. Tugas kita hanya menjaga negara ini, mencintai, dan melestarikan. Salah satunya dengan menerapkan moral yang baik. Setidaknya bisa mengurangi angka kriminal di lingkungan Anda. Saatnya berubah! Jangan lengah!

***

*) Oleh: Muhammad Nurul Iman, Mahasiswa Tadris/Penddikan Bahasa Indonesia Intitus Agama Islam Darussalam Blokagung.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

**) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: opini@timesindonesia.co.id

**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.

Pewarta :
Editor : Wahyu Nurdiyanto
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Banyuwangi just now

Welcome to TIMES Banyuwangi

TIMES Banyuwangi is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.