Berita

Koffie Ruiter: Menghidupkan Warisan Kopi Nusantara melalui Kopi Keliling

Sabtu, 10 Februari 2024 - 13:29
Koffie Ruiter: Menghidupkan Warisan Kopi Malang Rahmat Dibya Prakasa, salah satu penjual Koffie Ruiter asal Desa Sumberdem yang biasa mangkal di depan Kampus Universitas Islam Raden Rahmat, Kepanjen, Malang. (foto: dok UNIRA Malang)

TIMES BANYUWANGI, MALANG – Di tengah-tengah hiruk-pikuk kota Kepanjen di Kabupaten Malang, ada sebuah pemandangan yang menarik perhatian. Sebuah sepeda motor dengan gerobak berwarna cokelat berkeliling di jalan-jalan ramai, menawarkan kopi siap seduh kepada para pejalan kaki, pengendara, dan pelajar. Namun, ini bukan sekadar jualan kopi biasa. Ini adalah Koffie Ruiter, sebuah inisiatif yang menggabungkan bisnis, edukasi, dan pelestarian budaya kopi, khususnya kopi Malang, lereng Gunung Kawi.

Koffie Ruiter berasal dari bahasa Belanda yang artinya “penunggang kuda kopi”. Nama ini dipilih untuk menggambarkan semangat para penjual kopi yang berkelana dari satu tempat ke tempat lain, seperti para penunggang kuda di masa lalu. Namun, ada makna lain di balik nama ini. Koffie Ruiter juga merupakan penghormatan kepada sejarah kopi di Desa Sumberdem, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang, tempat asal kopi yang mereka jual.

Desa Sumberdem adalah salah satu kampung kopi tertua di Indonesia. Kopi di sini ditanam sejak tahun 1832, saat Indonesia masih dijajah oleh Belanda. Kopi robusta yang tumbuh di lereng Gunung Kawi ini memiliki kualitas dan cita rasa yang khas, berkat iklim dan tanah yang subur. Kopi Sumberdem juga diproses dengan standar tinggi, mulai dari panen, pengeringan, penyangraian, hingga pengemasan.

“Kami bangga dengan kopi kami. Kami ingin orang-orang tahu dan mencicipi kopi asli dari Desa Sumberdem. Kami juga ingin mengedukasi mereka bahwa kopi murni tidak kalah dengan kopi sachet, bahkan jauh lebih nikmat dan menyehatkan,” ujar Sukadianto, salah satu petani kopi yang tergabung dalam Koffie Ruiter, Jumat (8/2/2024).

Koffie-Ruiter-2.jpgRahmat Dibya Prakasa, salah satu penjual Koffie Ruiter, saat melayani pembeli. Rahmat menjual kopi Malang yang ditanam di desanya, Desa Sumberdem, Kecamatan Wonosari Malang. (foto: dok UNIRA Malang)

Sukadianto dan rekan-rekannya menjual kopi dengan harga terjangkau, mulai dari Rp 5.000 hingga Rp 8.000 per gelas, tergantung jenis dan varian kopi yang dipilih. Mereka menyediakan kopi hitam, es kopi, dan kopi susu, dengan berbagai pilihan rasa, seperti gula aren, gula merah, dan gula kelapa. Mereka juga memberikan informasi tentang kopi yang mereka jual, seperti asal, proses, dan manfaatnya.

“Kami ingin orang-orang tidak hanya menikmati kopi, tapi juga mengerti kopi. Kami ingin mereka tahu bahwa kopi adalah warisan budaya yang harus dilestarikan,” kata Rahmat Dibya Prakasa, salah satu penjual Koffie Ruiter.

Rahmat dan kawan-kawan memiliki rute jualan yang luas, meliputi Kecamatan Wonosari, Kecamatan Ngajum, hingga Kecamatan Kepanjen. Mereka biasanya mangkal di beberapa titik strategis, seperti di depan kampus UNIRA Malang, depan SMP 4 Kepanjen, dan seberang Bank Mandiri Kepanjen. Mereka juga sering mendapat undangan untuk berjualan di berbagai acara, seperti seminar, festival, dan pameran.

Koffie Ruiter adalah hasil kerjasama antara petani kopi Desa Sumberdem, Koramil Wonosari, dan Pemerintah Desa Sumberdem. Tujuannya adalah untuk memberdayakan petani kopi, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan mengenalkan kopi Desa Sumberdem ke khalayak yang lebih luas. Tentunya, ke depan, inisiatif ini membutuhkan lebih banyak lagi kolaborasi dan dukungan dari berbagai pihak, agar dampak ekonomi dan sosialnya semakin terasa.

“Kami berharap dengan adanya Koffie Ruiter, kami bisa mengurangi angka pengangguran di desa kami, sekaligus menghidupkan kembali warisan kopi Nusantara. Kami percaya bahwa petani adalah tuannya negeri, dan kopi adalah salah satu kekayaan yang harus kita jaga bersama,” tutur Sukadianto. (*)

Pewarta: Muhammad Imron 

Pewarta :
Editor : Wahyu Nurdiyanto
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Banyuwangi just now

Welcome to TIMES Banyuwangi

TIMES Banyuwangi is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.