TIMES BANYUWANGI, SITUBONDO – Memasuki Khittoh Abad ke-II Nahdlatul Ulama (NU), wacana mengenai lokasi pelaksanaan Muktamar NU ke-35 mulai menjadi perbincangan hangat di kalangan nahdliyin. Kabupaten Situbondo dinilai menjadi daerah yang paling representatif dan layak untuk kembali menjadi tuan rumah hajatan akbar lima tahunan tersebut.
Hal ini ditegaskan oleh Akademisi sekaligus Aktivis Muda Kabupaten Situbondo, Yuda Yulianto. Menurutnya, Situbondo bukan sekadar titik geografis, melainkan ruang historis yang memiliki ikatan emosional dan ideologis yang sangat kuat bagi perjalanan organisasi yang didirikan oleh KH Hasyim Asy'ari tersebut.
Yuda menjelaskan bahwa Situbondo memiliki memori kolektif yang tak terhapuskan dalam sejarah NU, yakni saat pelaksanaan Muktamar NU ke-27 pada tahun 1984. Kala itu, di bawah asuhan para kiai kharismatik, Situbondo menjadi saksi lahirnya keputusan monumental, penerimaan Pancasila sebagai asas tunggal organisasi.
"Muktamar Situbondo 1984 adalah fase transformasi ideologis yang sangat signifikan. NU tidak sekadar tunduk pada kebijakan negara di era Orde Baru, tetapi melakukan ijtihad kolektif melalui argumen keislaman yang mendalam," ujar Yuda kepada TIMES Indonesia, Senin (26/1/2026).
Menurut Yuda, keputusan tersebut menegaskan bahwa Pancasila adalah kalimatun sawa’ (titik temu) antara nilai keislaman dan kebangsaan.
"Dari Situbondo-lah paradigma Islam kebangsaan yang menjadi ciri khas NU hingga saat ini lahir dan kokoh," ujarnya.
Secara sosiologis, Yuda melihat Situbondo sebagai basis pesantren yang sangat kuat. Keberadaan jaringan kiai kharismatik dan masyarakat yang berakar pada tradisi keagamaan menjadikan kabupaten ini sebagai laboratorium sosial Islam tradisional yang hidup.
"Dalam perspektif sosiologi agama, lokasi muktamar yang memiliki kedalaman sejarah akan memperkuat legitimasi keputusan organisasi. Situbondo memenuhi prasyarat itu karena pernah menjadi ruang dialektika yang sukses antara agama, negara, dan masyarakat sipil," jelas aktivis muda ini.
Lebih lanjut, Yuda menekankan bahwa membawa kembali Muktamar ke Situbondo dalam Khittoh Abad ke-II NU memiliki makna simbolik dan substantif yang besar. Secara substantif, Situbondo bisa menjadi ruang refleksi kritis bagi NU dalam menghadapi tantangan zaman, mulai dari radikalisme, disrupsi digital, hingga persoalan keadilan sosial.
"Menghidupkan kembali spirit Situbondo 1984 sangat relevan di tengah situasi kebangsaan saat ini. Situbondo dapat berfungsi sebagai ruang rekontekstualisasi pemikiran NU untuk meneguhkan kembali perannya sebagai penjaga moderasi Islam (Wasathiyah)," paparnya.
Yuda menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa penyelenggaraan Muktamar NU ke-35 di Situbondo akan menjadi momentum bagi NU untuk kembali ke akar sejarah guna melangkah lebih kokoh di masa depan.
"Sudah saatnya Situbondo diposisikan kembali sebagai ruang strategis perumusan arah NU ke depan. Dengan dasar historis, sosiologis, dan ideologis yang kuat, Situbondo sangat layak menjadi tuan rumah Muktamar NU ke-35," tandasnya. (*)
| Pewarta | : Fathullah Uday |
| Editor | : Ferry Agusta Satrio |