https://banyuwangi.times.co.id/
Berita

Banyuwangi Diguyur Hujan, Kemunculan Ular di Rumah Warga Kian Marak

Rabu, 14 Januari 2026 - 20:48
Banyuwangi Diguyur Hujan, Kemunculan Ular di Rumah Warga Kian Marak Ilustrasi seorang pria sedang menangkap ular di dalam rumahnya. (FOTO: AI Image)

TIMES BANYUWANGI, BANYUWANGI – Curah hujan yang masih tinggi di wilayah Banyuwangi belakangan ini tak hanya memicu potensi banjir dan genangan air, tetapi juga meningkatkan kemunculan ular di lingkungan permukiman warga.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan wilayah Banyuwangi masih akan diguyur hujan hingga Maret 2026 dan puncak musim hujan diprediksi bakal terjadi pada Januari dan Februari mendatang.

Kondisi cuaca basah tersebut, menciptakan lingkungan yang kurang nyaman bagi satwa liar, termasuk ular, sehingga mendorong mereka mencari tempat yang lebih kering dan hangat, tak jarang hingga masuk ke rumah warga.

Teranyar, petugas Dinas Pemadan Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Banyuwangi, mengevakuasi seekor ular piton sepanjang empat meter yang ditemukan di sebuah gudang jual beli besi tua di Dusun Dadapan Lor, Desa Dadapan, Kecamatan Kabat, pada Senin (12/1/2026).

Ketua Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Jatim IV Banyuwangi, drh Risa Isna Fahziar, menjelaskan bahwa maraknya ular masuk ke permukiman saat musim hujan berkaitan erat dengan siklus alami reptil tersebut. Menurutnya, musim penghujan merupakan periode penting bagi ular untuk berkembang biak.

“Pada prinsipnya, hampir semua reptil menetas saat musim penghujan, biasanya berlangsung dari Desember hingga Januari atau Februari. Ini terjadi pada hampir semua spesies yang hidup di wilayah tropis,” kata Risa, Rabu (14/1/2026).

Risa menjelaskan, saat memasuki masa bertelur dan penetasan, ular akan mencari lokasi yang hangat dan lembap untuk membuat sarang. Selain itu, ular juga cenderung memilih area yang kaya mangsa guna mencukupi kebutuhan makanan anak-anaknya setelah menetas.

“Kelembapan dan suhu hangat di dalam sarang itulah yang menjadi momen ideal bagi telur-telur ular untuk menetas,” jelasnya.

Lebih lanjut, Risa menyebut ada dua faktor utama yang menyebabkan ular kerap masuk ke perkampungan. Pertama, faktor geografis, yakni permukiman yang berada dekat dengan sungai, persawahan, atau lahan terbuka yang menjadi habitat alami ular.

Kedua, adanya dugaan migrasi ular ke tempat yang lebih aman dan hangat untuk menghindari kondisi lingkungan yang tidak nyaman akibat hujan deras dan genangan air.

Untuk itu, Risa mengimbau masyarakat agar lebih waspada, terutama bagi warga yang tinggal di sekitar area rawan.

Menjaga kebersihan rumah dan lingkungan, menutup celah-celah yang berpotensi menjadi tempat persembunyian ular, serta segera melapor ke petugas terkait jika menemukan ular, menjadi langkah penting untuk mencegah risiko yang tidak diinginkan.

“Warga yang tinggal dekat persawahan dan sungai perlu ekstra waspada. Jangan lupa jaga kebersihan rumah dan lingkungan,” tutup owner petshop Sahabat Satwa Genteng itu. (*)

Pewarta : Syamsul Arifin
Editor : Imadudin Muhammad
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Banyuwangi just now

Welcome to TIMES Banyuwangi

TIMES Banyuwangi is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.