TIMES BANYUWANGI, BANYUWANGI – Komitmen kuat terhadap keselamatan dan kesehatan kerja (K3) kembali mengantarkan PT Bumi Suksesindo (BSI) meraih apresiasi bergengsi. Mengawali tahun 2026, perusahaan tambang emas yang beroperasi di Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi, itu menerima Penghargaan K3 dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dalam Apel Bulan K3 Nasional yang digelar di Stadion Tri Dharma Petrokimia Gresik, Rabu (14/1/2026). Apresiasi ini menjadi penegasan atas konsistensi PT BSI dalam mengimplementasikan standar K3 pertambangan secara disiplin dan berkelanjutan.
General Manager of Operations merangkap Kepala Teknik Tambang PT BSI, Roelly Fransza, menyambut gembira penghargaan perdana di awal 2026 tersebut. Menurutnya, capaian ini merupakan hasil kerja keras dan kolaborasi seluruh pekerja dalam menerapkan K3 di area operasi Tujuh Bukit Operations (TBO).
“Berkat kerja keras dan kerja sama seluruh pihak, pada tahun 2025 secara umum kita mengalami peningkatan performa K3 yang luar biasa,” ujar Roelly.
Capaian tersebut tercermin dari berbagai indikator kinerja keselamatan yang impresif. Hingga akhir Desember 2025, PT BSI berhasil mencatatkan 19,7 juta jam kerja tanpa kehilangan jam kerja atau lost time injury (LTI). Artinya, tidak terdapat kecelakaan kerja yang menyebabkan pekerja kehilangan waktu kerja.
Tak hanya itu, sepanjang 2025 tidak ada satu pun pekerja TBO yang mengalami recordable injury atau cedera yang dapat dicatat. Catatan ini terbilang istimewa mengingat ambang batas total recordable injury frequency rate (TRIFR) PT BSI di Tujuh Bukit Operations berada di bawah 0,32.
Dalam praktik K3 pertambangan, setiap cedera yang memenuhi kriteria tertentu wajib dicatat dan dilaporkan kepada Kepala Inspektur Tambang Kementerian ESDM. Cedera tersebut meliputi kejadian yang mengakibatkan kematian, hilangnya kesadaran, kehilangan jam kerja, pembatasan atau pemindahan pekerjaan, hingga kebutuhan perawatan medis lanjutan di luar pertolongan pertama.
“Alhamdulillah, tidak ada kejadian yang berakibat cedera serius terhadap pekerja sepanjang 2025. Terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam prestasi PT BSI ini,” ungkap Roelly.
Kinerja K3 PT BSI juga ditopang oleh rendahnya angka insiden berpotensi serius. Serious potential incident frequency rate (SPIFR) tercatat hanya 0,37, jauh di bawah target perusahaan yang ditetapkan di bawah 1,47 sepanjang 2025.
Lebih lanjut, Roelly menegaskan bahwa keselamatan dan kesehatan kerja telah menjadi nilai utama dalam setiap aktivitas operasional di Tujuh Bukit Operations.
“Setiap keputusan dan tindakan memiliki potensi risiko. Karena itu, tidak ada target produksi yang lebih penting daripada keselamatan jiwa manusia. Setiap orang berhak pulang ke rumah dengan selamat dan sehat untuk menikmati hasil kerja bersama keluarga,” jelasnya.
Memasuki 2026, PT BSI bertekad melangkah ke jenjang yang lebih tinggi dalam implementasi K3 dengan semangat On to the Next Level. Perusahaan telah menetapkan Safety Beliefs dan Duty of Care sebagai bagian integral dari sistem manajemen keselamatan pertambangan, dengan tujuan membudayakan K3 dalam aktivitas operasional sehari-hari.
“Tujuan, sasaran, dan program K3 yang jelas akan membantu kita mencapai kinerja yang lebih baik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya,” kata General Manager of Operations merangkap Kepala Teknik Tambang PT BSI, Roelly Fransza.
Untuk diketahui, PT Bumi Suksesindo (BSI) merupakan perusahaan pertambangan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) yang berdiri berdasarkan Keputusan Bupati Banyuwangi Nomor 188/547/KEP/429.011/2012 tanggal 9 Juli 2012. Perusahaan ini mengantongi Izin Usaha Pertambangan Operasi Produksi (IUP OP) seluas 4.998 hektare yang berlokasi di Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.
Kegiatan PT BSI saat ini berfokus pada produksi emas dan tembaga di Tujuh Bukit Operations, sebuah kawasan tambang yang diakui negara memiliki nilai strategis tinggi dan telah ditetapkan sebagai Objek Vital Nasional (Obvitnas) sejak 26 Februari 2016. Produksi perdana dimulai pada 1 Desember 2016, menandai transisi perusahaan dari tahap konstruksi ke operasi produksi.
Dengan menerapkan prinsip good mining practices, aktivitas pertambangan emas Tujuh Bukit terbuka untuk kepentingan publikasi sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. Hingga Desember 2025, PT BSI melibatkan 3.432 karyawan, dengan 99 persen merupakan Warga Negara Indonesia dan 71 persen atau sebanyak 2.423 orang adalah warga lokal Banyuwangi. Kecamatan Pesanggaran sebagai wilayah ring 1 menjadi penyumbang tenaga kerja lokal terbesar dengan 1.499 pekerja. (*)
| Pewarta | : Syamsul Arifin |
| Editor | : Imadudin Muhammad |