Berita

Kemenkes RI: Tidak Ada Hubungan Antara Nyamuk Ber-Wolbachia dan Nyamuk Aedes Aegypti

Selasa, 02 April 2024 - 10:43
Kemenkes RI: Tidak Ada Hubungan Antara Nyamuk Ber-Wolbachia dan Nyamuk Aedes Aegypti Nyamuk Wolbachia. (FOTO: YouTube)

TIMES BANYUWANGI, JAKARTA – Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan (Kemenkes RI), Maxi Rein Rondonuwu, menegaskan bahwa tidak ada hubungan antara penyebaran nyamuk Wolbachia dan tingkat keganasan nyamuk Aedes aegypti yang menjadi penyebab demam berdarah.

Menurut Maxi, karakteristik nyamuk Aedes aegypti tetap sama di daerah yang telah disebarkan maupun belum disebarkan nyamuk ber-wolbachia. Tanda dan gejala yang muncul pada orang yang terkena gigitan nyamuk Aedes aegypti juga tidak berbeda, seperti demam tinggi, nyeri otot, mual, muntah, sakit kepala, mimisan, dan gusi berdarah.

"Secara keseluruhan karakteristik dan gejalanya sama. Bahkan, tidak ada perbedaan jumlah nyamuk Aedes aegypti sebelum dan setelah wolbachia dilepaskan," ujar Maxi.

Meskipun demikian, penyebaran nyamuk ber-wolbachia telah terbukti efektif menurunkan kasus demam berdarah di Kota Yogyakarta. Sejak disebarkan pertama kali pada tahun 2017, nyamuk ber-wolbachia berhasil menurunkan angka kejadian dengue sebanyak 77 persen dan angka masuk rumah sakit sebanyak 86 persen.

Menurut Maxi, konsentrasi nyamuk Aedes aegypti ber-wolbachia di alam saat ini masih berada di bawah persentase ideal yang mencapai 60 persen. Namun, setelah mencapai persentase tersebut, pelepasan nyamuk ber-wolbachia akan ditarik kembali, dan hasil penurunan kasus dengue baru akan mulai terlihat setelah beberapa tahun.

Meskipun terdapat kontroversi terkait penggunaan nyamuk ber-wolbachia, Maxi memastikan bahwa teknologi tersebut aman karena memanfaatkan bakteri alami wolbachia yang telah melalui penelitian yang cukup panjang.

"Dalam 30 tahun ke depan, peluang peningkatan bahaya dari penyebaran Aedes aegypti ber-wolbachia dapat diabaikan," tambahnya.

Meskipun sudah menggunakan nyamuk ber-wolbachia, Maxi tetap mengimbau masyarakat untuk melengkapi upaya pencegahan dengan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) menggunakan pendekatan 3M plus, yaitu menguras tempat penampungan air, menutup tempat-tempat penampungan air, dan mendaur ulang barang-barang yang berisiko menjadi tempat berkembang biak nyamuk Aedes aegypti. (*)

Pewarta : Antara
Editor : Imadudin Muhammad
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Banyuwangi just now

Welcome to TIMES Banyuwangi

TIMES Banyuwangi is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.