Museum Ambarawa, Jejak Sejarah Kereta Api dan Militer di Jawa Tengah
Kereta wisata rute Ambarawa–Tuntang dengan lokomotif uap atau diesel vintage akan membawa penumpang menikmati sensasi ketera tua era kolonial. (foto: PT KAI)

Museum Ambarawa, Jejak Sejarah Kereta Api dan Militer di Jawa Tengah

Museum Ambarawa menyimpan beragam koleksi perkeretaapian dari era Hindia Belanda termasuk 26 lokomotif uap, empat lokomotif diesel, dan lima unit kereta.

TIMES Banyuwangi,Sabtu 27 Desember 2025, 06:33 WIB
303.5K
R
Rochmat Shobirin

AMBARAWAMuseum Ambarawa atau Indonesian Railway Museum (IRM) merupakan salah satu destinasi wisata sejarah unggulan di Jawa Tengah. Museum ini berlokasi di bekas Stasiun Willem I, sebuah stasiun kereta api peninggalan kolonial Belanda yang diresmikan pada 21 Mei 1873 bersamaan dengan dibukanya jalur kereta api Kedungjati–Ambarawa.

Stasiun tersebut dibangun oleh perusahaan kereta api swasta Hindia Belanda, Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NISM). Pembangunan jalur cabang Kedungjati–Ambarawa sepanjang 37 kilometer kala itu bukan semata untuk kepentingan transportasi umum, melainkan menjadi syarat konsesi pembangunan jalur utama Semarang–Vorstenlanden (Solo–Yogyakarta), sekaligus menunjang kebutuhan militer kolonial.

Sejarah Ambarawa sendiri tidak dapat dilepaskan dari perannya sebagai kota militer. Sejak abad ke-19, kawasan ini menjadi penyangga garnisun Magelang. Pada 1835 dibangun sebuah kompleks benteng besar yang rampung pada 1848 dan dinamai Benteng Willem I, merujuk pada Raja Willem I yang berkuasa saat itu. Keberadaan benteng inilah yang kemudian diyakini menjadi asal-usul penamaan Stasiun Willem I, karena lokasinya berdekatan.

Perkembangan jalur kereta api di Ambarawa terus berlanjut. Pada 1 Februari 1905, NISM membuka lintas Ambarawa–Secang–Magelang yang menggunakan teknologi rel bergerigi untuk menaklukkan kontur medan yang menanjak. Dua tahun kemudian, bangunan stasiun direnovasi dengan mengganti material kayu dan bambu menjadi bangunan permanen dari batu bata.

Pada masa operasionalnya, Stasiun Willem I berfungsi sebagai sarana angkutan komoditas ekspor sekaligus transportasi militer di wilayah Jawa Tengah. Namun, seiring perubahan kebijakan transportasi, stasiun ini dinonaktifkan pada 1976. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah kemudian menetapkannya sebagai Museum Kereta Api atas prakarsa Gubernur Supardjo Rustam, dengan tujuan melestarikan lokomotif uap dan menjadikannya sebagai daya tarik wisata sejarah.

Pemilihan Ambarawa sebagai museum tidak lepas dari nilai historisnya, termasuk peristiwa Pertempuran Ambarawa dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, serta masih terpeliharanya teknologi perkeretaapian kuno yang dapat dioperasikan hingga kini.

Saat ini, Museum Ambarawa menyimpan beragam koleksi perkeretaapian dari era Hindia Belanda hingga masa pra-kemerdekaan. Koleksi tersebut meliputi sarana, prasarana, serta perlengkapan administrasi perkeretaapian. Tercatat terdapat 26 lokomotif uap, empat lokomotif diesel, lima unit kereta, dan enam gerbong dari berbagai daerah di Indonesia.

Daya tarik utama museum ini adalah pengalaman wisata menaiki Kereta Api Wisata. Pengunjung dapat menikmati perjalanan pulang-pergi rute Ambarawa–Tuntang dengan lokomotif uap atau diesel vintage. Selain itu, tersedia pula rute Ambarawa–Jambu–Bedono yang menggunakan lokomotif uap bergigi dan melintasi rel bergerigi—satu-satunya jalur rel bergerigi aktif di Indonesia.

Tak hanya sebagai destinasi wisata sejarah, kawasan Museum Ambarawa juga kerap dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan, mulai dari pameran, pertemuan, pemotretan, produksi film, hingga acara pernikahan, festival, bazar, dan workshop.

Informasi Kunjungan

Museum Ambarawa buka setiap hari, Senin hingga Minggu, pukul 08.00–17.00 WIB.

Harga tiket masuk ditetapkan sebesar Rp20.000 per orang untuk dewasa dan mahasiswa, Rp10.000 untuk anak-anak dan pelajar, serta Rp30.000 bagi wisatawan mancanegara.

Sementara itu, tarif sewa Kereta Api Wisata rute Ambarawa–Tuntang pulang-pergi dengan durasi perjalanan sekitar 60–90 menit tersedia untuk hari kerja maupun akhir pekan, dengan ketentuan dan harga yang menyesuaikan jenis rangkaian serta kapasitas penumpang. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Penulis:Rochmat Shobirin
|
Editor:Wahyu Nurdiyanto

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Banyuwangi, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.