Tradisi Tadarus Al-Qur’an Raksasa di Masjid Agung Baiturrahman Banyuwangi Terus Terjaga
Tradisi tadarus menggunakan Al-Qur’an raksasa seberat 4 kuintal di Masjid Agung Baiturrahman Banyuwangi terus berlangsung setiap Ramadan sejak 2010.
BANYUWANGI – Suasana malam Ramadan di Masjid Agung Baiturrahman Banyuwangi terasa berbeda. Dalam 16 malam terakhir Ramadan, usai salat tarawih, jemaah melantunkan ayat suci menggunakan Al-Qur’an raksasa seberat 4 kuintal. Tradisi unik ini terus terjaga dari tahun ke tahun.
Al-Qur’an jumbo berukuran sekitar 1,5 x 2 meter tersebut menjadi bagian tak terpisahkan dari tadarus Ramadan sejak diwakafkan pada 2010. Meski tata cara tadarusnya sama seperti biasa, ukuran mushaf yang tidak lazim menghadirkan pengalaman membaca yang berbeda.
Tradisi ini dimulai sejak mushaf tersebut diwakafkan kepada Masjid Agung Baiturrahman pada 2010. Sejak saat itu, setiap Ramadan, Al-Qur’an raksasa menjadi pusat tadarus selepas tarawih.
Ketua Yayasan Masjid Agung Baiturrahman Banyuwangi, Ustadz Ahmad Nur Qomari, menjelaskan tidak semua jemaah diperkenankan membacanya. Selain karena ukurannya yang besar, membaca mushaf raksasa membutuhkan penyesuaian khusus.
“Warga yang membaca harus menyesuaikan diri karena ukurannya yang besar. Namun, bagi yang sudah terbiasa akan terasa lebih mudah karena huruf hijaiyahnya juga lebih besar,” kata Qomari.
Setiap malam, tujuh orang petugas dilibatkan dalam tadarus tersebut. Satu orang bertugas melantunkan ayat, dua orang membantu membalik halaman, dan empat lainnya menyimak. Di antara para pembaca terdapat seorang hafiz.
Dalam satu malam, para qari mampu menyelesaikan hingga tiga juz. Pembacaan biasanya rampung sebelum tengah malam. Selama Ramadan, mereka menargetkan khatam tiga kali.
Untuk menjaga keawetan, bagian luar mushaf dilapisi kayu jati setebal lima sentimeter. Kertasnya didatangkan khusus dari Jepang untuk memastikan kualitas dan daya tahan.
Sejarah Penulisan Mushaf Raksasa
Al-Qur’an raksasa ini merupakan karya tulis tangan Drs. H. Abdul Karim, warga Dusun Kebunrejo, Desa Genteng Wetan, Kecamatan Genteng, Banyuwangi. Ia merupakan pensiunan guru Pendidikan Agama Islam di SMA Negeri 1 Genteng.
Penulisan dimulai pada Senin, 1 Februari 2010 dan rampung pada Kamis, 26 Agustus 2010. Proses tersebut menghabiskan 32 lusin spidol dan 40 lusin tinta. Pembuatan mushaf ini menelan anggaran Rp183.850.000 yang bersumber dari Pemerintah Kabupaten Banyuwangi.
Mushaf tersebut kemudian diserahkan kepada Masjid Agung Baiturrahman pada 27 Ramadan 1431 Hijriah, bertepatan dengan Minggu, 5 September 2010.
Kini, lebih dari satu dekade berlalu, Al-Qur’an raksasa itu tidak hanya menjadi kebanggaan masyarakat Banyuwangi, tetapi juga menjadi bagian dari tradisi Ramadan di daerah tersebut. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.



