Kisah Neles dan Rega, Anak Muda Banyuwangi yang Sukses di Dunia Pertanian
TIMESINDONESIA – Di tengah anggapan bahwa sektor pertanian kurang diminati generasi muda, dua pemuda asal Banyuwangi justru membuktikan sebaliknya. Dengan inovasi dan keberanian mencoba hal baru, mereka sukses mengembangkan usaha di bidang pertanian modern yang tak hanya menjanjikan secara ekonomi, tetapi juga berkelanjutan.
Paul Corneles Hariyono atau yang akrab disapa Neles, menjadi salah satu contoh nyata. Sarjana Teknik Sipil asal Desa Purwoharjo, Kecamatan Purwoharjo itu memilih jalur yang tak biasa dengan menggeluti pertanian, meski tanpa latar belakang pendidikan di bidang tersebut.
Berbekal rasa penasaran dan keyakinan akan potensi daerahnya, Neles mulai mengembangkan greenhouse melon hidroponik premium yang ia beri nama “Virgin Farm”. Di lahan tersebut, ia menanam ratusan batang melon dari varietas unggulan seperti sweet lavender, sweet honey, hingga dalmatian.
“Banyuwangi punya lahan subur, sinar matahari sepanjang tahun, serta air yang melimpah. Potensi sebesar ini sayang kalau tidak dimanfaatkan,” ujar Neles, Jumat (1/5/2026).
Meski awalnya minim pengalaman, Neles tak gentar. Ia memanfaatkan kemajuan teknologi dengan belajar secara mandiri melalui berbagai platform digital.
Ketekunannya membuahkan hasil. Melon yang dibudidayakan memiliki kualitas premium, dengan rasa lebih legit dan tekstur renyah, sehingga memiliki nilai jual tinggi di pasaran.
Kini, usaha yang baru dirintis sekitar tiga bulan itu telah memasuki masa panen. Bahkan, Neles berencana mengembangkan lahannya menjadi destinasi wisata petik buah untuk masyarakat.
“Selain produksi, kami ingin membuka wisata petik melon agar masyarakat bisa merasakan langsung pengalaman di greenhouse,” ujarnya.
Kisah serupa juga datang dari Rega, pemuda 29 tahun asal Desa Karetan, Kecamatan Purwoharjo. Ia mengembangkan sistem pertanian terintegrasi atau integrated farming di lahan seluas satu hektare miliknya.
Dalam satu kawasan, Rega memadukan berbagai sektor, mulai dari tanaman jeruk dan jagung, peternakan domba, hingga budidaya ikan nila. Lebih dari 100 ekor domba dipeliharanya, terdiri dari berbagai jenis seperti cross merino, cross texel, dan cross batur, serta kambing etawa.
Yang menarik, seluruh limbah dari aktivitas tersebut dimanfaatkan kembali. Kotoran dan urine ternak diolah menjadi pupuk organik, sementara sisa tanaman jagung dijadikan silase untuk pakan ternak. Bahkan, air dari kolam ikan dimanfaatkan sebagai nutrisi tambahan bagi tanaman.
“Hampir tidak ada yang terbuang. Semua bisa dimanfaatkan kembali, sehingga lebih hemat dan ramah lingkungan,” cetus Rega.
Selama empat tahun menjalankan sistem ini, ia merasakan efisiensi yang signifikan, terutama dalam penyediaan pakan dan pupuk. Model pertanian terpadu yang dijalankannya pun menjadi contoh praktik pertanian berkelanjutan di tingkat desa.
Kisah Neles dan Rega menjadi gambaran bagaimana anak muda Banyuwangi mulai melirik sektor pertanian sebagai peluang masa depan. Dengan kreativitas dan pemanfaatan teknologi, mereka mampu menghadirkan inovasi yang menjawab tantangan zaman.
Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi terus mendorong lahirnya petani-petani muda melalui berbagai program. Salah satunya program Jagoan Tani yang digagas sejak 2021.
Program ini dirancang untuk mendampingi generasi muda agar terjun ke sektor pertanian, mulai dari pelatihan, menghadirkan mentor dan praktisi, hingga pemberian stimulus modal usaha. Hasilnya, ratusan petani milenial telah lahir dan berkembang di berbagai wilayah Banyuwangi, dari sektor hulu hingga hilir.
Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, mengatakan bahwa pertanian menjadi salah satu prioritas utama daerah. Selain sebagai penopang ketahanan pangan, sektor ini juga berperan besar dalam menggerakkan perekonomian.
“Pertanian di Banyuwangi memiliki potensi yang sangat besar. Karena itu kami fokus pada regenerasi petani agar anak-anak muda tertarik dan mau terjun ke sektor ini,” tuturnya.
Ipuk pun mengapresiasi semangat dan inovasi yang ditunjukkan Neles dan Rega. Ia berharap kisah mereka dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda lainnya untuk ikut berkontribusi dalam memajukan sektor pertanian di Banyuwangi. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

