Legenda Keris Suro, Pusaka Blambangan Banyuwangi yang Konon Dibuat dari Pijatan Jari
Keris Suro, karya Mpu Joko Suryo, yang dibuat menggunakan pijatan jari. (FOTO: Ikromil Aufa/TIMES Indonesia)

Legenda Keris Suro, Pusaka Blambangan Banyuwangi yang Konon Dibuat dari Pijatan Jari

Keris Suro, pusaka legendaris yang diyakini berasal dari era Kerajaan Blambangan dan hingga kini masih dirawat dengan baik di Banyuwangi.

TIMES Banyuwangi,Rabu 17 Juni 2026, 17:01 WIB
605
S
Syamsul Arifin

BANYUWANGIDi balik bilah keris yang tampak sederhana, tersimpan kisah panjang yang melintasi zaman. Salah satunya adalah Keris Suro, pusaka legendaris yang diyakini berasal dari era Kerajaan Blambangan dan hingga kini masih dirawat dengan baik di Banyuwangi.

Keris ini begitu istimewa bukan hanya karena usianya yang diperkirakan telah berabad-abad, melainkan juga legenda pembuatannya. Konon, Keris Suro tidak ditempa dengan palu seperti lazimnya pembuatan keris, melainkan dibentuk hanya dengan pijatan tangan oleh seorang tokoh bernama Mpu Joko Suro.

Kisah tersebut diungkapkan oleh kolektor sekaligus penjamas keris, Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) H. Ilham Trihadinagoro, dalam kegiatan Jamasan Suro atau Gelar Budaya Keris Blambangan yang digeber di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banyuwangi, Selasa (17/6/2026).

article
KRT H. Ilham Trihadinagoro, saat menjamas keris. (FOTO: Ikromil Aufa/TIMES Indonesia)

Diceritakan Ilham, Keris Suro diperkirakan dibuat pada abad ke-16 dan menjadi salah satu keris tertua yang masih tersimpan di Banyuwangi. Namun, sejarah keris tersebut tidak dapat dipisahkan dari kisah pencarian pusaka legendaris Majapahit, yakni Keris Kanjeng Kyai Sumelang Gandring.

Pencarian itu melibatkan seorang empu ternama bernama Mpu Supo Madrangi. Dalam berbagai sumber sejarah dan cerita tutur yang berkembang, Mpu Supo dikenal sebagai salah satu pembuat keris terbaik pada masa Majapahit dan Blambangan. Dia juga disebut sebagai suami Dewi Rasawulan, adik dari Joko Said atau Sunan Kalijaga.

Suatu ketika, Mpu Supo berusaha mencari keberadaan Keris Kanjeng Kyai Sumelang Gandring yang hilang dari Gedong Pusaka Keraton Majapahit.

Meski demikian, terdapat versi lain yang berkembang di masyarakat. Dalam versi tersebut, Mpu Supo disebut memperoleh pawisik atau petunjuk spiritual setelah bersemedi untuk melakukan perjalanan ke arah timur.

Dalam pencariannya, Mpu Supo mengganti namanya menjadi Ki Rembang yang diambil dari kata ‘Ngelambrang’ yang berarti pengelana tanpa tujuan.

“Cerita yang berkembang memang ada dua versi. Bisa jadi keduanya memiliki keterkaitan dan sama-sama dipercaya masyarakat,” cerita Ilham, Selasa (17/6/2026).

Singkat cerita, dalam pengembaraannya ke arah timur, Mpu Supo sampai di wilayah Blambangan, tempat dia bertemu dengan Ki Luwuk, seorang empu yang menjadi orang kepercayaan penguasa Blambangan pada masa Adipati Menak Dadali Putih.

Di wilayah Sembulungan, Kecamatan Muncar, Mpu Supo kemudian menetap dan dikenal dengan nama Mpu Pitrang. Di sanalah kisah pencarian Keris Kanjeng Kyai Sumelang Gandring menemukan titik terang.

Pusaka yang dicarinya ternyata berada di tangan Adipati Blambangan. Kesempatan untuk memastikan hal itu datang ketika Mpu Pitrang mendapat tugas membuat keris putran atau keris tiruan Kyai Sumelang Gandring. Selama 40 hari, dia mengerjakan tugas tersebut hingga berhasil membuat dua bilah yang sangat mirip.

Saat proses penyerahan, menurut legenda yang berkembang, Mpu Pitrang menukar keris asli dengan hasil duplikasinya tanpa diketahui sang adipati.

Keahlian luar biasa itu membuat Adipati Blambangan terkesan. Sebagai bentuk penghargaan, dia menikahkan adik perempuannya, Dewi Roro Upas, dengan Mpu Pitrang.

Beberapa waktu kemudian, Mpu Pitrang berniat kembali ke Majapahit. Sebelum berangkat, dia berpesan kepada istrinya yang saat itu tengah mengandung agar anak laki-laki yang lahir kelak diberi nama Joko Suro, agar menyusulnya ke Majapahit saat telah cukup dewasa dengan membawa sepotong besi peninggalannya.

Tahun demi tahun berlalu. Ketika berusia sekitar sembilan tahun, Joko Suro memulai perjalanan mencari sang ayah. Besi wasiat yang dibawanya terus dipijat dan ditekan sepanjang perjalanan.

“Dalam kisah yang berkembang, besi tersebut perlahan berubah bentuk hingga menyerupai sebilah keris. Pusaka itulah yang kemudian dikenal sebagai Keris Suro,” terang Ilham.

Lebih lanjut, Ilham mengisahkan, Joko Suro diyakini membentuk keris itu menggunakan panas energi tubuhnya. Karena itulah dia disebut tidak berumur panjang dan hanya hidup hingga sekitar usia 19 tahun.

Keunikan lain dari Keris Suro, terlihat pada permukaan bilah yang diyakini masih menyisakan bekas tekanan empat jari tangan pembuatnya.

Bagi Ilham, Keris Suro bukan sekadar benda pusaka. Keris tersebut menjadi salah satu koleksi yang memiliki nilai historis paling kuat karena berkaitan erat dengan perjalanan panjang Kerajaan Blambangan dan warisan budaya kabupaten paling ujung timur Pulau Jawa ini.

“Ini adalah salah satu pusaka yang paling berharga bagi saya karena menyimpan cerita sejarah yang sangat kuat tentang Blambangan,” tutupnya. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita ini juga tayang di portal nasional

Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

Baca di sini
Penulis:Syamsul Arifin
|
Editor:Imadudin Muhammad

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Banyuwangi, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.