Irigasi Dam di Banyuwangi Ambrol, Petani Terancam Tak Bisa Bercocok Tanam Tak Bisa Bercocok Tanam
Ancaman krisis pangan menghantui petani di Dusun Cungkingan, Desa Badean, Kecamatan Blimbingsari, Banyuwangi, Jawa Timur.
banyuwangi – Ancaman krisis pangan menghantui petani di Dusun Cungkingan, Desa Badean, Kecamatan Blimbingsari, Banyuwangi, Jawa Timur. Pasalnya, aliran irigasi Dam Sekaitan yang menjadi urat nadi pertanian warga di wilayah setempat ambrol total sejak 13 Februari 2026 lalu.
kibatnya, air yang seharusnya mengalir ke hilir, merembes ke kiri kanan saluran. Dan kondisi diwilayah hilir langsung kering kerontang.
Hingga kini, belum ada tindakan konkret dari dinas terkait, khususnya Dinas PU Pengairan Banyuwangi. Kondisi ini pun dinilai bertolak belakang dengan semangat swasembada pangan yang digelorakan Presiden Prabowo Subianto.
Wakil Ketua Kelompok Tani (Poktan) Brawijaya Dusun Cungkingan, Kholidi, mengungkapkan kekhawatirannya. Menurutnya, ambrolnya Dam Sekaitan membuat nasib puluhan hektar sawah di ujung tanduk karena saluran tersebut merupakan satu-satunya sumber pengairan bagi petani setempat.

"Ini satu-satunya aliran irigasi kami. Jika tidak segera diperbaiki, puluhan hektar lahan pertanian di Dusun Cungkingan terancam tidak bisa bercocok tanam sama sekali," tegas Kholidi, Senin (2/3/2026).
Kholidi menyayangkan lambannya respons pihak berwenang. Padahal, sebelum kerusakan semakin parah, warga telah memberikan informasi awal mengenai kondisi Dam yang mulai rapuh. Pasca kejadian ambrol, Poktan Brawijaya bersama Pemerintah Desa Badean pun telah melapor ke Dinas PU Pengairan Banyuwangi melalui Koordinator Sumber Daya Air (Korsda) Rogojampi.
"Pihak dinas sudah cek lapangan, tapi sampai sekarang hanya sebatas pengecekan. Belum ada solusi konkret atau langkah perbaikan darurat," keluhnya.
Saat ini, petani hanya bisa "nrimo" dengan mengandalkan tingginya curah hujan untuk mengolah lahan. Namun, pola ini tentu tidak akan bertahan lama jika musim kemarau tiba.
Senada dengan petani, Kepala Desa (Kades) Badean, Nursyamsi, mendesak pemerintah daerah melalui Dinas PU Pengairan Banyuwangi untuk segera turun tangan. Baginya, penundaan perbaikan infrastruktur ini sama saja dengan membiarkan produktivitas pangan desa lumpuh.
"Harapan kami segera diperbaiki. Ini menyangkut hajat hidup orang banyak. Aliran itu menyuplai air ke puluhan hektar lahan. Jangan sampai program swasembada pangan yang dicanangkan pemerintah pusat justru terhambat oleh lambannya penanganan infrastruktur di tingkat daerah," ujar Nursyamsi.
Dikonfirmasi terpisah, Wakil Ketua DPRD Banyuwangi, Michael Edy Hariyanto, SH MH, mengaku sangat menyayangkan sikap Dinas PU Pengairan. Menurutnya, setelah mendapat pengaduan warga, dia langsung berupaya melakukan koordinasi dengan Plt. Kepala Dinas PU Pengairan Banyuwangi, Riza Al Fahroby, ST, M.Sc, namun tidak pernah diterima dengan baik.
“Saya beberapa kali mencoba menghubungi, namun tidak pernah direspon. Susah sekali diajak koordinasi, padahal saya itu pimpinan dewan, bagaimana jika yang koordinasi itu masyarakat bawah,” cetus Michael.
Sebagai tindak lanjut, sekaligus bentuk dukungan terhadap program ketahanan pangan nasional, Ketua DPC Partai Demokrat Banyuwangi tersebut berencana akan memanggil pihak Dinas PU Pengairan. Disitu wakil rakyat akan mempertanyakan kesungguhan niat pengabdian, serta program Dinas PU Pengairan Banyuwangi, yang ditujukan untuk mendukung produktivitas pertanian di Bumi Blambangan.
Ambrolnya irigasi Dam Sekaitan yang berlokasi di Dusun Donosuko ini menjadi potret kontradiktif di tengah ambisi besar Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, dalam mewujudkan kemandirian pangan nasional. Publik kini menunggu langkah nyata Pemkab Banyuwangi dalam menyelamatkan nasib para petani di Desa Badean. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.




