Kartini Modern Banyuwangi, Desi Prakasiwi: Mengabdi untuk Ekonomi Rakyat dan Peradaban
Hj Desi Prakasiwi, srikandi Fraksi PDI Perjuangan DPRD Banyuwangi yang mendedikasikan hidupnya untuk pengabdian dan penguatan ekonomi kerakyatan.
BANYUWANGI – Di tengah deru pembangunan dan dinamika politik di Bumi Blambangan, muncul sosok perempuan yang merepresentasikan semangat Raden Ajeng Kartini di era disrupsi.
Dia adalah Hj Desi Prakasiwi, srikandi Fraksi PDI Perjuangan DPRD Banyuwangi yang mendedikasikan hidupnya untuk pengabdian dan penguatan ekonomi kerakyatan.
Lahir di Muncar, Banyuwangi, Desi dikenal bukan sekadar legislator.
Di balik penampilannya yang anggun, tersimpan militansi dan loyalitas tinggi terhadap perjuangan partai dan masyarakat. Ia juga dipercaya sebagai Bendahara DPC PDI Perjuangan Banyuwangi.
“Bagi saya, jabatan politik hanyalah alat untuk menebar manfaat yang lebih luas bagi masyarakat,” ujar Desi.
Duduk sebagai anggota Komisi II DPRD Banyuwangi, fokus Desi tak pernah jauh dari isu ekonomi rakyat, khususnya sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Ia dikenal vokal dalam mengawal kebijakan yang berpihak pada pelaku usaha kecil.
“Ekonomi masyarakat bawah adalah fondasi. Jika UMKM kuat, maka daerah akan hebat,” ungkapnya, Selasa (21/4/2026).
Dalam setiap pembahasan anggaran, Desi mengaku selalu menggabungkan kajian teknis dengan aspirasi masyarakat di lapangan.
Menurutnya, setiap rupiah dalam APBD harus mampu menjadi stimulus nyata bagi pedagang kecil dan masyarakat akar rumput.
Di luar dunia politik, Desi juga aktif di sektor industri hiburan. Bersama sang suami, H Junaedi yang akrab disapa Mas Jo, ia berada di balik Sultan Production. Keterlibatan ini membuatnya dekat dengan generasi muda, termasuk milenial dan Gen Z.
“Pendekatan kepada generasi muda harus relevan dengan zaman. Kita harus hadir di ruang yang mereka pahami,” katanya.
Meski memiliki kesibukan di politik dan bisnis, Desi tetap menempatkan keluarga sebagai prioritas utama. Ia menilai perempuan memiliki peran sentral dalam membangun peradaban.
“Perempuan adalah tiang peradaban. Jika perempuannya berilmu dan berakhlak, maka kuatlah negara. Sebaliknya, jika perempuan rusak, runtuhlah peradaban,” tegasnya.
Ke depan, Desi memberi perhatian serius pada peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), khususnya bagi remaja putri di Banyuwangi. Ia mendorong pendidikan sebagai kunci utama untuk keluar dari keterbatasan.
“Perempuan muda harus berani bermimpi dan mendobrak batas. Pendidikan adalah senjata utama untuk meraih masa depan,” ujarnya.
Lebih jauh, Desi menilai perempuan masa kini memiliki peluang besar untuk berkarier di berbagai bidang, termasuk politik dan industri kreatif yang selama ini didominasi laki-laki.
“Perempuan harus percaya diri. Kita bisa bersinar di mana pun, tanpa harus kehilangan jati diri,” imbuhnya.
Sosok Hj Desi Prakasiwi menjadi gambaran Kartini modern yang tidak melupakan akar, namun berani melangkah dan memberi dampak nyata.
Dari Banyuwangi, ia terus bergerak, membuktikan bahwa pengabdian untuk peradaban adalah kerja panjang yang tak pernah sia-sia. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

