Fenomena Bediding Melanda Banyuwangi, Ini Penyebab dan Tips Tetap Sehat Saat Udara Dingin
Udara dingin yang terasa menusuk pada malam hingga pagi hari belakangan ini menjadi perbincangan warga Banyuwangi. Fenomena yang dikenal dengan istilah Bediding tersebut ternyata merupakan gejala alam yang lazim terjadi saat musim kemarau.
BANYUWANGI – Udara dingin yang terasa menusuk pada malam hingga pagi hari belakangan ini menjadi perbincangan warga Banyuwangi. Fenomena yang dikenal dengan istilah Bediding tersebut ternyata merupakan gejala alam yang lazim terjadi saat musim kemarau.
Stasiun Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kelas III Banyuwangi, menjelaskan bahwa saat ini sebagian besar wilayah di Bumi Blambangan telah memasuki musim kemarau.
Pada periode ini, angin muson timur-tenggara mulai mendominasi dan membawa massa udara dari Benua Australia yang memiliki karakteristik dingin serta kering.
Kondisi tersebut, berpengaruh terhadap cuaca di Banyuwangi. Pada siang hari, cuaca cenderung panas dan kering akibat intensitas penyinaran matahari yang tinggi. Namun ketika malam hingga pagi hari, suhu udara dapat turun cukup signifikan sehingga terasa lebih dingin dibandingkan biasanya.
“Secara umum, kondisi cuaca di wilayah Banyuwangi pada musim kemarau bersifat panas dan kering pada siang hari serta dingin pada malam hari. Beberapa masyarakat menyebut kondisi ini dengan istilah bediding,” tulis akun Instagram resmi BMKG Banyuwangi, @infocuaca_bwi, dikutip Senin (1/6/2026).
Selain dipengaruhi oleh massa udara dingin dari Australia, suhu yang lebih rendah pada malam hari juga dipicu oleh kondisi langit yang cenderung cerah selama musim kemarau. Minimnya tutupan awan membuat panas yang tersimpan di permukaan bumi pada siang hari lebih mudah terlepas ke atmosfer pada malam hari.
Akibatnya, suhu udara dapat turun lebih cepat sehingga udara terasa lebih dingin, terutama menjelang malam hingga pagi hari. Kondisi ini merupakan fenomena normal yang umum terjadi setiap musim kemarau.
Meski demikian, BMKG mengingatkan masyarakat untuk tetap menjaga kesehatan karena perbedaan suhu antara siang dan malam hari cukup signifikan.
Perubahan suhu yang drastis berpotensi memengaruhi kondisi tubuh, terutama bagi anak-anak, lansia, dan mereka yang memiliki daya tahan tubuh rendah.
Salah satu warga Desa Temuasri, Kecamatan Sempu, yang merasakan fenomena tersebut, Faridah (63), mengaku suhu udara pada malam hingga pagi hari belakangan terasa lebih dingin dibanding biasanya.
“Kalau malam sampai subuh sekarang dinginnya memang terasa sekali. Kalau keluar rumah harus pakai jaket atau selimut. Saya juga pakai minyak telon biar hangat,” ujar Faridah.
Menurutnya, kondisi tersebut sudah beberapa kali dirasakan setiap memasuki musim kemarau. Meski demikian, tahun ini udara terasa lebih sejuk sehingga dia memilih mengurangi aktivitas di luar rumah pada malam hari dan memperbanyak konsumsi minuman hangat.
Kondisi yang dirasakan Faridah itu sejalan dengan penjelasan BMKG Banyuwangi mengenai fenomena Bediding yang tengah terjadi. Meski merupakan fenomena alam yang normal saat musim kemarau, masyarakat tetap diminta waspada terhadap dampak perubahan suhu yang cukup drastis.
Untuk menjaga kesehatan, warga dianjurkan mengenakan pakaian hangat, memperbanyak minum air putih meski tidak merasa haus, serta mengonsumsi makanan bergizi guna menjaga daya tahan tubuh tetap optimal.
Selain itu, penggunaan losion atau pelembap kulit juga dapat membantu mengatasi kulit kering yang kerap muncul akibat rendahnya kelembapan udara saat musim kemarau.
Dengan memahami penyebab fenomena Bediding dan menerapkan langkah-langkah pencegahan sederhana, masyarakat dapat tetap beraktivitas dengan nyaman sembari menikmati udara sejuk khas musim kemarau di Banyuwangi. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

