Cetak Pemilih Cerdas, Begini Cara Bakesbangpol Banyuwangi Dongkrak Kesadaran Politik Gen Z
Bakesbangpol Banyuwangi beri pendidikan politik kepada pelajar. (Foto: Fazar Dimas/TIMES Indonesia)

Cetak Pemilih Cerdas, Begini Cara Bakesbangpol Banyuwangi Dongkrak Kesadaran Politik Gen Z

Upaya mencetak pemilih cerdas dan mendongkrak kesadaran politik bagi Generasi Z (Gen Z) dikemas apik melalui penyuluhan pendidikan politik tahun 2026.

TIMES Banyuwangi,Senin 18 Mei 2026, 14:20 WIB
3K
F
Fazar Dimas Priyatna

BanyuwangiBadan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, terus bergerak masif dalam memberikan pemahaman politik sejak dini bagi generasi muda. Kali ini, upaya mencetak pemilih cerdas dan mendongkrak kesadaran politik bagi Generasi Z (Gen Z) dikemas apik melalui penyuluhan pendidikan politik tahun 2026.

Kegiatan yang mengusung tajuk ‘Pemahaman Dasar Tentang Demokrasi Bagi Pemilih Pemula’ tersebut digebyarkan di Aula SMKN 1 Glagah Banyuwangi pada Senin (18/5/2026). Melalui forum literasi ini, para pelajar yang merupakan calon pemilih pemula digembleng agar tidak hanya menjadi penonton, melainkan motor penggerak demokrasi yang berkualitas.

Tak tanggung-tanggung, guna menyuntikkan pemikiran yang visioner, Bakesbangpol Banyuwangi menghadirkan dua narasumber yang berbobot dan kompeten di bidangnya. Mereka adalah Ketua Komisi I DPRD Banyuwangi, Marifatul Kamila, SH, serta Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Untag ‘45 Banyuwangi, Assoc. Prof. Dr. Hary Priyanto, S.T., M.Si., CPGPA.

article
Ketua Komisi I DPRD Banyuwangi, Marifatul Kamila, saat menyampaikan pendidikan politik. (Foto: Fazar Dimas/TIMES Indonesia).

Kepala Bakesbangpol Banyuwangi, Drs. R. Agus Mulyono, S.Sos., M.Si., mengatakan bahwa pendidikan politik bagi pelajar tidak hanya bertujuan mengenalkan proses pemilu semata. Namun lebih dari itu, generasi muda harus memahami hakikat politik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Adik-adik di sini tidak hanya belajar menjadi pemilih pemula, tetapi juga harus memahami apa itu politik,” ujar Agus.

Menurutnya, pendidikan politik tidak boleh dipahami secara praktis saja. Pelajar juga perlu mengerti bagaimana proses demokrasi berjalan, termasuk menghormati dan mematuhi hasil-hasil produk politik yang lahir melalui mekanisme demokrasi.

“Pendidikan politik ini tidak hanya soal memilih. Tapi bagaimana siswa-siswi memahami proses demokrasi dan menghormati hasil keputusan politik,” imbuhnya.

Sementara itu, Ketua Komisi I DPRD Banyuwangi, Marifatul Kamila, mengajak para pelajar agar tidak apatis terhadap politik. Politisi perempuan Partai Golkar yang akrab disapa Rifa itu menegaskan bahwa suara generasi muda sangat menentukan arah masa depan bangsa.

“Satu suara kita sangat berarti untuk menentukan arah masa depan bangsa,” katanya.

Rifa juga mengingatkan bahwa Gen Z jangan sampai menjauh dari demokrasi. Sebaliknya, generasi muda harus aktif menentukan siapa calon pemimpin yang layak memimpin bangsa ke depan.

Di sela pemaparannya, suasana aula sempat pecah ketika Rifa bertanya kepada peserta apakah mereka siap menggunakan hak pilih pada Pemilu 2029 mendatang. Dengan kompak, para siswa menjawab siap dan bersedia ikut memilih.

Tak hanya itu, Rifa juga mencontohkan praktik demokrasi yang paling dekat dengan kehidupan pelajar, yakni pemilihan ketua OSIS di sekolah.

“Ketika memilih Ketua OSIS, tentu kalian memahami visi dan misi calon yang akan direalisasikan. Itu bagian dari proses demokrasi,” ungkapnya.

Suasana semakin hidup saat Rifa memanggil lima siswa maju ke depan. Mereka kemudian diberi pertanyaan ringan mulai dari nama kepala desa, camat, hingga isi Pancasila. Gelak tawa dan tepuk tangan peserta pun pecah ketika para siswa mencoba menjawab pertanyaan tersebut.

Menurutnya, pemilih pemula harus berani tampil, aktif berdiskusi, serta tidak anti terhadap politik. Dia menekankan pentingnya literasi politik di tengah derasnya arus informasi digital.

“Anak-anak muda jangan anti-politik. Negara kita adalah negara demokrasi, maka mereka harus banyak membaca literasi politik dan ikut terlibat langsung dalam pesta demokrasi nanti,” tegasnya.

Rifa juga mengingatkan agar generasi muda tidak mudah terpengaruh hoaks maupun praktik manipulasi politik yang kerap muncul menjelang pemilu.

article
Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Untag ‘45 Banyuwangi, Assoc. Prof. Dr. Hary Priyanto, S.T., M.Si., CPGPA, saat memberikan pengetahuan arti demokrasi. (Foto: Fazar Dimas/TIMES Indonesia).

“Jangan sampai terkena hoaks dan jangan mudah dimanipulasi,” pesannya.

Senada dengan itu, Dekan FISIP Untag ’45 Banyuwangi, Assoc. Prof. Dr. Hary Priyanto, menegaskan bahwa demokrasi Indonesia adalah demokrasi Pancasila yang mengedepankan nilai moral, etika, dan kebersamaan.

“Demokrasi kita adalah demokrasi Pancasila,” katanya.

Dia menilai tantangan demokrasi saat ini semakin kompleks di tengah era digital dan fenomena post truth, di mana kebenaran sering diukur dari jumlah like, view, atau konten yang viral di media sosial.

“Kebenaran hari ini sering diukur dari berapa banyak like dan FYP. Ini tantangan besar bagi demokrasi,” jelasnya. 

Menurutnya, kelompok pemilih muda merupakan kelompok strategis karena jumlahnya besar dan memiliki pengaruh signifikan terhadap hasil politik nasional maupun daerah.

Karena itu, lanjut Hary, generasi muda harus dibekali kemampuan memilah informasi agar tidak mudah terjebak kabar bohong dan propaganda politik di media digital.

“Anak muda hari ini hidup dalam dunia digital. Mereka harus mampu memilih dan memilah informasi agar tidak mudah terjebak informasi yang tidak benar,” jelasnya.

Hary juga menekankan bahwa anak muda tidak perlu alergi terhadap politik. Sebab, politik merupakan bagian dari tanggung jawab warga negara dalam menentukan arah pembangunan bangsa.

“Berpikirlah politik dengan baik. Gaya politik kita adalah gaya politik Pancasila,” pesannya.

Sementara itu, salah satu peserta dari SMAN 1 Banyuwangi, Nabila Itan Cantika, mengaku senang bisa mengikuti kegiatan tersebut. Menurutnya, penyuluhan politik seperti ini membuat pelajar lebih memahami pentingnya peran generasi muda dalam demokrasi.

“Sekarang saya jadi lebih paham bahwa anak muda juga punya tanggung jawab menentukan masa depan bangsa lewat pemilu,” ujarnya. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita ini juga tayang di portal nasional

Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

Baca di sini
Penulis:Fazar Dimas Priyatna
|
Editor:Ferry Agusta Satrio

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Banyuwangi, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.