Tulip Psikologi Bekali Guru Banyuwangi Tangani Siswa Tantrum dan Wujudkan Kelas Inklusif
Biro Tulip Psikologi memberikan materi Manajemen Kelas Inklusi. (FOTO: Ikromil Aufa/TIMES Indonesia)

Tulip Psikologi Bekali Guru Banyuwangi Tangani Siswa Tantrum dan Wujudkan Kelas Inklusif

Menghadapi ragam karakter siswa di kelas bukan perkara mudah. Apalagi ketika guru harus berhadapan dengan anak berkebutuhan khusus hingga situasi tantrum yang bisa muncul tiba-tiba.

TIMES Banyuwangi,Senin 22 Juni 2026, 14:36 WIB
1.7K
M
Muhamad Ikromil Aufa

BanyuwangiMenghadapi ragam karakter siswa di kelas bukan perkara mudah. Apalagi ketika guru harus berhadapan dengan anak berkebutuhan khusus hingga situasi tantrum yang bisa muncul tiba-tiba.

Ya, kondisi inilah yang kemudian mendorong Biro Tulip Psikologi menghadirkan strategi khusus melalui Workshop Manajemen Kelas Inklusi bagi para guru di Banyuwangi agar proses pembelajaran di kelas bisa berjalan lebih ramah, adaptif, sekaligus tepat sasaran.

Tak sekadar teori, kegiatan yang digeber di Luminor Hotel Banyuwangi, pada Senin (22/6/2026) ini juga menghadirkan praktik langsung agar guru lebih siap menghadapi dinamika di kelas.

article
Direktur Biro Tulip Psikologi, Dhea Dana Mariska, M.Psi, Psikolog., saat memberikan materi. (FOTO: Ikromil Aufa/TIMES Indonesia)

Direktur Biro Tulip Psikologi, Dhea Dana Mariska, M.Psi., Psikolog., menjelaskan bahwa kegiatan ini digelar sebagai upaya untuk memperkuat pemahaman guru dalam menghadapi keberagaman kebutuhan siswa di sekolah.

Menurutnya, guru tidak hanya dituntut mengajar secara akademik, tetapi juga mampu memahami kondisi kognitif maupun emosional peserta didik, terutama dalam konteks pendidikan inklusif.

“Materi yang disampaikan cukup lengkap, mulai dari asesmen inklusi, manajemen kelas inklusi, penanganan perilaku siswa di kelas, hingga studi kasus yang dibedah bersama serta latihan praktik,” kata Dhea yang juga narasumber dalam acara tersebut.

Dalam kegiatan yang berlangsung interaktif tersebut, para peserta juga mendapat pendampingan langsung dari sejumlah narasumber, termasuk Founder Katalion, Andhika Chandra Ajie, M.Psi., Psikolog.

Di bawah panduan para pemateri, guru-guru dibekali keterampilan praktis untuk menghadapi berbagai situasi di kelas, termasuk ketika siswa mengalami tantrum atau ledakan emosi yang tidak terkendali. 

Pendekatan yang diberikan menekankan pada respons yang tepat, tenang, serta tetap berpihak pada kebutuhan perkembangan anak, sehingga proses belajar tetap dapat berjalan kondusif di lingkungan kelas inklusif.

“Harapannya, guru-guru bisa menerapkan pembelajaran inklusif ini di sekolah masing-masing, sehingga semua anak, termasuk yang berkebutuhan khusus, bisa mendapatkan hak belajar yang sama sesuai kemampuannya,” tutur Pengurus HIMPSI se-Karesidenan Besuki dan Lumajang itu.

Ketua Umum HIMPSI, Andik Matulessy, M.Si., Psikolog., mengapresiasi atas pelaksanaan workhsop yang digelar Biro Tulip Psikologi tersebut.

Andik menyebut, pendidikan inklusi tidak sekadar menempatkan anak dengan kebutuhan beragam dalam satu ruang kelas, melainkan merupakan upaya menghadirkan keadilan pendidikan bagi seluruh peserta didik.

article
Suasana Workshop Manajemen Kelas Inklusi. (FOTO: Ikromil Aufa/TIMES Indonesia)

“Pendidikan inklusi adalah memastikan setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh, belajar, dan berkembang sesuai potensi terbaiknya,” ujarnya.

Namun demikian, Andik juga menyoroti tantangan besar yang dihadapi guru di lapangan. Guru, kata dia, kerap dituntut untuk mengelola beragam kebutuhan akademik, emosi, dan perilaku siswa dalam waktu yang bersamaan, sehingga tidak jarang mengalami kelelahan.

“Tantangan terbesar bukan pada anak-anak yang beragam, tetapi pada bagaimana sistem pendidikan mampu mendukung guru agar tidak bekerja sendirian,” tegasnya.

Sementara itu, salah satu peserta workshop dari Azzahra Daycare, Kurnia Azizah, S.Pd., mengaku kegiatan tersebut sangat membantu dalam meningkatkan pemahaman dan keterampilan pendidik dalam menghadapi anak dengan berbagai karakter.

Dia mengungkapkan, selama ini pihaknya memang kerap menjumpai peserta didik dengan kebutuhan perhatian khusus, sehingga diperlukan pendekatan yang lebih tepat dalam proses pendampingan.

“Harapannya setelah ini tentu bisa memberikan layanan yang lebih baik lagi untuk semua anak, baik yang reguler maupun yang berkebutuhan khusus, agar mereka tetap mendapatkan hak belajar yang sama dan merasa nyaman di lingkungan belajar,” harapnya.

Di tengah tantangan yang masih dihadapi guru dalam mengelola keberagaman siswa, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa dukungan, keterampilan, dan kolaborasi adalah kunci utama mewujudkan pendidikan inklusif yang sesungguhnya, bukan sekadar wacana.

Lebih dari sekadar pelatihan, kegiatan ini meninggalkan pesan bahwa setiap anak berhak dipahami, bukan hanya diajar. Dari ruang workshop, harapan itu dibawa pulang oleh para guru untuk diwujudkan di ruang-ruang kelas mereka masing-masing. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita ini juga tayang di portal nasional

Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

Baca di sini
Penulis:Muhamad Ikromil Aufa
|
Editor:Ferry Agusta Satrio

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Banyuwangi, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.