Forum Mahasiswa

Transformasi Centhini: Wujud Nyata Urun Membangun Negeri

Rabu, 31 Agustus 2022 - 16:09
Transformasi Centhini: Wujud Nyata Urun Membangun Negeri Ayu Mutmmainnah, Mahasiswi Tadris/Pendidikan Bahasa Inggris (TBIG) IAI Darussalam Blokagung.

TIMES BANYUWANGI, BANYUWANGI – Pernah mendengar kata Centhini?  Ya, separuh insan di negeri ini tentu pernah mendengarrya. Tapi, mungkin kebanyakan dari mereka mengetahui itu dari acara sinetron yang berjudul Centhini di salah satu stasiun tv swasta pada tahun 2016. Padahal, sejatinya asal kata Centhini bukan diambil dari tayangan tersebut. Lebih dari itu, Centhini adalah salah satu karya sastra masterpiece dari tanah Jawa.

Secara historis, Centhini berasal dari kata cethi yang artinya pelayan. Kata ini  berasal dari sebuah ensklopedi Jawa yang berjudul “Serat Centhini.” Karya yang digubah oleh R.Ng Ranggasutrasna, R. Ng. Yasadipura, R.Ng. Sastradipura, Pangeran Jungut Manduraja, dan Kiai Mohammad. Dalam Serat Centhini mengandung wejangan dari para sesepuh, yakni perihal pengetahuan mengenai aneka jenis rumah Jawa, keris, adat istiadat, tari, wayang, puasa, ilmu kadigdayan, katuranggan wanita, dan lain-lain. (Sejarah Para Raja dan Istri-istri Raja Jawa: 2016)

Menukil dari serat tersebut. Alkisah, Centhini adalah pelayan wanita dari Niken Tambangraras, istri Syekh Amongraga. Centhini merupakan reprentasi kawula alit (rakyat) yang setia, tekun dan cerdas. Segala titah sang tuan tak pernah ia bantah. Selama menjadi seorang abdi dari seorang tokoh agama, ia tak luput berusaha mencari hikmah di sela-sela pengabdiannya. Alhasil, banyak ilmu yang diperoleh, terutama perihal keagamaan.

Oleh karena itu, dalam pembahasan kali ini, makna centhini akan dipetakan dalam etalase yang lebih luas lagi. Tak hanya mencakup perjuangan pelayan sebagai asisten rumah tangga, tetapi juga mencakup yang lainnya. Dengan tanpa membedakan gender maupun kasta. Bagaimanapun, sering kali kita sebagai manusia lebih suka menghakimi kehidupan orang lain, tapi enggan untuk menghakimi diri sendiri. Endingnya, kita condong melihat segala sesuatu dari covernya saja. 

Seorang pelayan dominan dianggap sebagai golongan kalangan bawah, sedangkan majikan dianggap sebagai golongan atas. Seolah-olah profesi para pelayan adalah sebab akibat dari kurangnya usaha mereka untuk memperbaiki kehidupan. Malas untuk belajar dan sekolah lebih tinggi lagi, dan tak bisa membaca peluang di sekitarnya. Bahkan yang lebih parah adalah profesi ini dicap sebagai profesi hina. Terlalu arogan jika menilainya secara sepihak saja. 

Orang bestari pernah berkata, dibalik kesuksesan seseorang pasti ada orang lain yang turut menyokongnya. Dibalik mulianya seseorang pasti ada tangan-tangan yang rela lelah merangkulnya. Dan dibalik agungya seseorang sudah barang tentu bahwa ada orang yang rela mengorbankan kepingan mimpinya. 

Sedikit narasi, contoh kisah eks menteri perikanan dan kelautan, Puji Susiastuti. Sosok yang dikenal karena ketegasannya dalam menindak para illegal fishing. Menteri yang dulunya adalah seorang penjual ikan, lalu siapa sangka jika ke depannya akan menjadi seorang petinggi? Walaupun tak lulus SD, ia bisa membuktikan pada semua orang bahwa ia bisa bergerak lebih maju dibandingkan mereka yang lulus sekolah tinggi, namun tak sedikitpun berkontribusi untuk negeri. 

Senada dengan kisah sang Menteri. Ada cerita mengenai Tan Malaka, seorang pahlawan revolusi yang terlupakan. Pahlawan kelahiran Minangkabau ini telah melalang buana berjuang melayani rakyat tanpa pamrih dan tanpa henti untuk tanah kelahirannya bahkan di luar bangsanya. Jasanya tak tertandingi, ia pernah bersepakat dengan Soekarno (pelaksanaan  Proklamasi 24 Agustus 1945) dimana semenanjung Malaya berada di dalamnya. (Di dalam buku Tan Malaka dan Gerakan Kiri Minangkabau; 2007). 

Untuk menghidupi kebutuhannya, Sang Patjar Merah ini rela menjadi seorang kuli-kontrak di tanah Deli selama kurun waktu setahun lebih (1919-1921). Perolehan gaji tak sepadan dengan pemerasan tenaga, hanya 40 sen. Namun demikian, bukan Tan Malaka namanya jika jerih payahnya hanya dinilai dari segi duniawi. Sesuai perkataannya (bergerak). Dalam keadaan terpurukpun ia mampu mengejewantahkan diri sebagai guru bagi anak-anak kuli kontrak di maskapai Senembah Deli (Deli-Senembah Maatchaapij).

Selain tokoh bangsa, adapula Centhini lainnya yang eksis di dunia maya. Misalnya, para asisten rumah tangga selebritis. Berangkat dari menjadi seorang asisten artis papan atas, mereka kini dapat dikatakan sebagai golongan orang yang bercuan, produktif dan kreatif. Berusaha untuk memanfaatkan momentum sebaik mungkin dengan meng-ekspost kehidupannya bersama artis di akun sosial media miliknya. Banyaknya followers, like dan endors adalah bukti adanya keaktifan atau kemujuran dalam jerih payahnya. Yup, mungkin sesekali kita pernah berpikir bahwa kesuksesan mereka lantaran ada bayangan dari tuannya. Terlalu naif jika berpikir demikian. Sebab, sebagai manusia memang hakikatnya saling bersimbiosis mutualisme bukan? 

Bercermin dari potongan kisah tersebut, dalam hal ini dapat diartikan bahwa, apabila setiap individu rela mendedikasikan dirinya untuk melayani ibu pertiwi, maka negeri ini tak akan kekurangan sinergi. Ikhlas membantu tanpa menggerutu dan tanpa embel-embel tertentu. Karena apa yang diberikan pada orang lain tentu akan kembali pada dirimu sendiri. Semakin banyak yang ditanam maka semakin banyak pula hasil yang akan dituai.

Melayani tak hanya harus menghambakan diri pada orang lain. Menjadi pelayan bagi dirimu sendiri sudah cukup. Misalnya, dengan menjadi hamba yang merdeka. Bebas menentukan mimpi tanpa lupa diri. Sebisa mungkin lebih peka terhadap sesama makhluk dan menghargai serta memahami adalah salah satu jalan yang dapat ditempuh.

Dalam menjelajahi lorong waktu, transformasi dalam diri setiap individu itu hukumnya wajib. Setiap hitungan detik ke menit, dari hari ke hari haruslah introspeksi diri. Selalu berbenah untuk menjadi insan manusia yang lebih baik lagi. Tak peduli siapa kita. Tanpa peduli kasta, dan tak perduli apa dan siapa. Hakikatnya kita adalah makhluk Tuhan yang di hadapan-Nya adalah hanya seorang hamba, seorang Centhini.

***

*) Oleh: Ayu Mutmmainnah, Mahasiswi Tadris/Pendidikan Bahasa Inggris (TBIG) IAI Darussalam Blokagung.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

**) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: opini@timesindonesia.co.id

**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.

Pewarta :
Editor : Faizal R Arief
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Banyuwangi just now

Welcome to TIMES Banyuwangi

TIMES Banyuwangi is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.