Runner Banyuwangi Tetap Aktif Lari Saat Ramadan, Ini Tips Aman agar Tubuh Tak Drop
Runner Banyuwangi membagikan tips aman berlari saat Ramadan, mulai dari memilih waktu latihan hingga menjaga intensitas dan asupan gizi agar tubuh tetap bugar selama puasa.
BANYUWANGI – Puasa bukan alasan untuk berhenti bergerak. Bagi para penghobi lari di Banyuwangi, Ramadan justru menjadi momen untuk menjaga konsistensi sekaligus membuktikan bahwa gaya hidup sehat tetap bisa dijalani tanpa mengganggu ibadah.
Salah satu runner Banyuwangi, Sandi Sumarsono, mengaku tetap rutin berlari selama bulan puasa. Namun, menurutnya ada beberapa penyesuaian penting agar tubuh tidak drop.
“Puasa itu bukan berarti kita harus berhenti total. Yang penting tahu batasan dan atur strategi,” kata Sandi, Jumat (27/2/2026).
Pilih Waktu yang Tepat
Menurut Sandi, waktu terbaik untuk lari saat puasa adalah menjelang berbuka atau setelah salat Tarawih. Di waktu tersebut, tubuh tidak terlalu lama menahan dehidrasi karena setelah berlari bisa langsung mengisi kembali cairan dan energi saat berbuka.
Selain itu, suhu udara cenderung lebih bersahabat dibanding siang hari sehingga risiko kelelahan berlebihan bisa ditekan.
"Kalau sore menjelang Magrib, kita bisa langsung isi cairan saat berbuka. Kalau malam setelah Tarawih juga enak, tenaga sudah terisi," ujarnya.
Turunkan Intensitas
Saat puasa, tubuh tidak mendapat asupan makanan dan minuman selama belasan jam. Karena itu, bapak tiga anak tersebut menganjurkan agar intensitas latihan dikurangi.
“Fokusnya itu bukan pada kecepatan, melainkan menjaga kebugaran dan konsisten,” ujarnya.
Pria yang juga menjabat sebagai Humas Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Banyuwangi itu menjelaskan bahwa saat berlari di bulan puasa, pelari sebaiknya memperhatikan detak jantung (heart rate) agar tidak terlalu menggeber stamina.
Latihan dapat difokuskan di zona 2 hingga zona 3, yakni intensitas ringan hingga sedang yang masih nyaman untuk berbicara tanpa terengah-engah. Di zona ini, tubuh tetap membakar energi secara efisien tanpa membuat cadangan tenaga cepat terkuras.
“Kalau sudah terlalu ngos-ngosan, berarti intensitasnya kebanyakan. Saat puasa, lebih aman main di zona 2 atau maksimal zona 3 supaya badan tetap segar dan tidak drop,” jelasnya.
Perhatikan Asupan dan Istirahat
Sandi juga menekankan pentingnya asupan saat sahur dan berbuka. Karbohidrat kompleks, protein, serta cairan yang cukup menjadi kunci agar tubuh tetap bertenaga.
“Minum air putih yang cukup setelah berbuka sampai sahur. Jangan lupa elektrolit juga kalau perlu,” tutur suami Indah Wahyu tersebut.
Tetap Kalcer, Tetap Sehat
Di Banyuwangi, tren lari semakin diminati, terutama di kalangan anak muda. Aktivitas ini bukan sekadar olahraga, tetapi telah menjadi bagian dari gaya hidup atau yang kini kerap disebut sebagai “kalcer”.
Bagi Sandi, tetap aktif berlari saat puasa adalah cara menjaga ritme hidup sehat.
“Kalcer itu bukan cuma soal gaya, tapi konsisten menjalani hal positif. Lari saat puasa tetap bisa dilakukan asal bijak dan tahu kondisi tubuh,” tutupnya.
Dengan pengaturan waktu, intensitas yang tepat, serta pola makan yang seimbang, lari saat puasa tetap aman dilakukan. Ramadan pun bisa dijalani dengan tubuh yang tetap bugar dan semangat yang terjaga. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.



