https://banyuwangi.times.co.id/
Berita

Ketika Kiai Sepuh NU Turun Gunung, Bawa Seruan Damai dari Ploso untuk NU

Minggu, 30 November 2025 - 17:16
Ketika Kiai Sepuh NU Turun Gunung, Bawa Seruan Damai dari Ploso untuk NU Para kiai sepuh NU berkumpul di Ploso untuk meredam dinamika PBNU dan menyerukan islah demi menjaga marwah jam’iyah

TIMES BANYUWANGI, KEDIRI – Siang di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri, Jatim, terasa lebih teduh dari biasanya. Angin berhembus pelan di halaman pesantren yang sudah puluhan tahun menjadi poros ilmu dan adab. 

Namun suasana hati di dalam salah satu ruang pertemuan tampak jauh lebih berat. Di sinilah para kiai sepuh Nahdlatul Ulama berkumpul pada Minggu, (30/11/2025).

Mereka datang bukan untuk halaqah biasa. Bukan pula untuk acara rutin pesantren. Mereka berkumpul untuk membahas sesuatu yang telah mengusik ketenangan Nahdlatul Ulama (NU) jam’iyah terbesar di negeri ini. Yakni, dinamika yang tengah terjadi di PBNU.

Dua tokoh utama, KH Anwar Manshur dari Lirboyo dan KH Nurul Huda Djazuli dari Ploso, memprakarsai forum ini. Keduanya dikenal sebagai figur kharismatik yang selama ini menjadi rujukan para pengurus NU di berbagai tingkatan.

Di usia yang sepuh, langkah keduanya justru tegas. Mengajak para masyayikh lain untuk duduk bersama. Mendinginkan suasana. Dan mencari jalan yang paling maslahat.

Satu per satu para kiai tiba. Ada KH Abdullah Kafabihi Mahrus dari Lirboyo, KH Abdul Hannan Ma’shum dari Kwagean, KH Kholil As’ad dari Situbondo, dan KH Ubaidillah Shodaqoh. Wajah-wajah tenang, namun matanya menyimpan keprihatinan yang dalam.

Lewat layar Zoom, hadir pula tokoh nasional. Ada mantan wakil Presiden RI dan Mustasyar PBNU KH Ma’ruf Amin, mantan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, KH dr. Umar Wahid, dan KH Abdulloh Ubab Maimoen.

Di hadapan para sesepuh itu, kondisi PBNU yang belakangan ramai di media menjadi pembahasan utama. Para kiai sepuh menilai, sudah terlalu jauh percakapan publik berkembang. Sudah terlalu banyak kata yang terlanjur dilontarkan.

Dan bagi NU, kata-kata tidaklah kecil. Ia adalah cermin akhlak. Ia adalah marwah.

Dalam forum itu, para kiai sepuh sepakat menyampaikan keprihatinan mendalam. Mereka tidak ingin konflik internal PBNU menjadi tontonan yang memecah perhatian warga Nahdliyin.

“Islah,” menjadi kata yang paling sering muncul. 

Mereka ingin kedamaian segera kembali. Bukan sekadar damai di permukaan, tetapi damai yang lahir dari kebeningan hati dan kesediaan untuk saling merendah.

Karena itu, Forum Sesepuh menyerukan agar semua pihak di PBNU menghentikan pernyataan publik. Terutama pernyataan yang bisa membuka aib, memperuncing situasi, dan merusak marwah jam’iyah.

Para masyayikh memandang konflik sebagai persoalan rumah. Dan urusan rumah tidak perlu diumbar kepada khalayak. Apalagi jika publik kini mudah tersulut oleh potongan video, kutipan setengah kalimat, atau unggahan yang tersebar tanpa konteks.

Di tengah derasnya perbincangan media sosial, para kiai sepuh mengingatkan etika bermedsos. Sesuatu yang terlihat sederhana, tetapi kian sulit dijaga ketika jari-jari lebih cepat bergerak daripada hati yang menimbang.

Pesan Moral Kiai Sepuh

Forum Sesepuh NU juga memberikan pesan khusus untuk PWNU, PCNU, dan PCINU di seluruh dunia.

Mereka diminta tetap fokus pada tugas masing-masing. Program sosial, dakwah, pendidikan, dan pelayanan masyarakat tidak boleh berhenti hanya karena konflik di pusat.

NU terlalu besar untuk terombang-ambing oleh perbedaan pendapat di tingkat elite.

Pesan itu mengalir tegas: jangan ikut terseret arus. Jangan menambah suara baru di tengah kebisingan informasi.

Sebagai penanda kedalaman spiritual para kiai sepuh, forum ditutup dengan ajakan untuk memperbanyak taqarrub kepada Allah SWT.

Doa menjadi jalan paling bening ketika akal dan kata belum menemukan temu.

“Semoga Allah memberikan jalan keluar yang paling maslahat,” begitu kurang lebih pesan para masyayikh.

Pada akhirnya, pertemuan Ploso bukan hanya soal pernyataan resmi. Ia adalah pesan moral.
Di saat suasana memanas, para kiai sepuh memilih kembali pada akar tradisi NU: adab, musyawarah, dan ketenangan.

Dalam keheningan pesantren Ploso, para kiai sesepuh mengingatkan bahwa NU tidak dibangun oleh konflik, melainkan oleh kebersamaan.
Dan dari ruang itulah, sebuah harapan kembali dipanjatkan: semoga jam’iyah yang besar ini terus berjalan dengan akhlak yang terjaga dan hati yang terarah. (*)

Pewarta : Bambang H Irwanto
Editor : Wahyu Nurdiyanto
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Banyuwangi just now

Welcome to TIMES Banyuwangi

TIMES Banyuwangi is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.