TIMES BANYUWANGI, JAKARTA – Amerika Serikat menyatakan bahwa pihaknyalah yang saat ini menjadi pemimpin Venezuela, karenanya bila Wapres Delcy Rodriguez yang kini diangkat sebagai presiden sementara, tidak nurut, maka AS siap dengan serangan kedua.
Pernyataan itu muncul setelah Delcy Rodriguez yang ditetapkan oleh Mahmakah Agung Venezuela sebagai Presiden sementara, mengirim pesan kepada Trump bahwa rakyat Venezuela dan kawasannya layak mendapatkan perdamaian dan dialog, bukan perang.
Usai rapat kabinet pertamanya sejak pasukan khusus AS menangkap Presiden Nicolas Maduro di Caracas, Delcy Rodriguez menyerukan kepada pemerintahan AS untuk bekerja sama dalam kerangka hukum internasional.
Rodriguez mengatakan salah satu prioritasnya adalah upaya untuk membangun hubungan internasional yang seimbang dan saling menghormati antara Amerika Serikat dan Venezuela.
"Kami menegaskan kembali komitmen kami terhadap perdamaian dan hidup berdampingan secara damai serta bercita-cita untuk hidup bebas dari ancaman eksternal," katanya.
Tapi Trump bergegas memperbaharui ancamannya kepada pemerintah Venezuela. "Kamilah yang memimpin Venezuela. Jika mereka tidak patuh, kami akan melakukan serangan kedua," katanya.
"Kami berurusan dengan orang-orang yang baru saja dilantik. Amerika Serikat lebih fokus pada mereformasi Venezuela daripada pemilihan umum," katanya kemudian.
Sebelumnya Trump juga
mengatakan bahwa Rodriguez akan membayar mahal jika dia tidak melakukan hal yang benar.
Trump menegaskan bahwa negaranya menginginkan akses penuh ke minyak dan sumber daya lainnya di Venezuela.
80 Tewas
Mengenai operasi militer yang dilakukan oleh pasukan AS pada Sabtu pagi yang menyebabkan penangkapan Maduro, Trump mengatakan bahwa "semua tentara yang terluka dalam kondisi baik setelah operasi tersebut."
Tapi presiden AS itu mencatat bahwa "banyak warga Kuba" tewas selama operasi tersebut. Ia juga menyatakan bahwa militernya siap untuk melakukan gelombang serangan kedua, dan "semuanya sudah siap, tetapi saya rasa kita tidak akan membutuhkannya."
Surat kabar New York Times melaporkan pada hari Minggu bahwa jumlah korban tewas akibat serangan AS di Venezuela kini menjadi 80 orang, sementara pihak berwenang belum secara resmi mengumumkan jumlah pasti korban tewas.
Surat kabar itu mengutip seorang pejabat Venezuela yang tidak disebutkan namanya yang mengatakan bahwa korban tewas termasuk personel militer dan warga sipil, dan bahwa jumlahnya bisa meningkat, setelah pasukan AS membombardir ibu kota, Caracas, dan beberapa daerah strategis di seluruh negeri.
Sementara itu, Menteri Pertahanan Venezuela menyatakan bahwa sejumlah besar anggota tim keamanan presiden tewas dalam operasi Amerika, dan mengutuk pembunuhan "berdarah dingin" terhadap beberapa pengawalnya.
Suasana tenang dan waspada menyelimuti ibu kota Venezuela, Caracas, sehari setelah penangkapan Nicolas Maduro, dengan lalu lintas kendaraan yang sedikit dan toko-toko, pom bensin, serta bisnis lainnya tetap tutup. (*)
Artikel ini sebelumnya sudah tayang di TIMES Indonesia dengan judul: AS Ancam dengan Serangan Kedua bila Venezuela Tidak Nurut
| Pewarta | : Widodo Irianto |
| Editor | : Ferry Agusta Satrio |