TIMES BANYUWANGI, BANYUWANGI – Kata orang, cinta datang dari mata turun ke hati. Namun bagi jurnalis TIMES Indonesia Biro Banyuwangi, Anggara Cahya Kharisma, S.Ant, cinta justru datang dari jempol—turun ke pelaminan.
Berawal dari obrolan singkat di WhatsApp (WA), kisah asmara sang kuli tinta akhirnya berlabuh di dermaga suci pernikahan. Mengusung tajuk romantis “Dari Chattingan, Kubawa Kau ke Pelaminan”, Anggara resmi mempersunting pujaan hatinya, Riadus Sholihah, S.Pd, pada Senin, 5 Januari 2026.
Kisah cinta keduanya bermula pada 7 November 2023. Bukan lewat aplikasi kencan modern, melainkan melalui jalur klasik penuh berkah: orang dalam keluarga. Adalah sang Pakde, Cak Mufid, yang menjadi perantara awal perkenalan Anggara dengan perempuan yang akrab disapa Ria itu.
Lewat pesan WA, komunikasi sederhana pun terjalin. Tanpa gimik, tanpa basa-basi berlebihan. Setelah sekitar sepekan saling bertukar kabar, Anggara memberanikan diri mengajak Ria bertemu langsung.
Kafe Swakarya, di Dusun Gurit, Desa Pengatigan, Kecamatan Rogojampi, menjadi saksi bisu pertemuan pertama mereka. Di sanalah, “radar” seorang jurnalis tiba-tiba kehilangan fokus pada berita.
Bukan karena breaking news, melainkan karena pesona sosok di hadapannya.
“Dia cantik sekali. Begitu pertama kali melihat, saya langsung terpikat,” kenang Anggara sambil tersipu, saat berbagi kisah kepada rekan sejawatnya, Sabtu (3/1/2026).

Menariknya, hubungan keduanya jauh dari drama pernyataan cinta ala sinetron. Tak ada momen “nembak”, tak pula kata-kata romantis yang diumbar sejak awal. Selama berbulan-bulan menjalin kedekatan, Anggara dan Ria memilih satu hal yang sama: menjaga keseriusan.
Bagi Anggara, tindakan jauh lebih bermakna daripada sekadar kata-kata. Ungkapan cinta secara resmi justru baru ia sampaikan pada momen sakral lamaran, yang digelar Sabtu, 25 Oktober 2025, di kediaman Ria, Dusun Belumbang, Desa Singolatren.
Di hadapan keluarga besar, jurnalis kelahiran 14 April 1998 itu akhirnya “merilis” pernyataan cintanya—bukan lewat headline, melainkan lewat niat suci menuju pernikahan.
“Dia itu manja, tapi penurut. Tipe saya banget. Saya sangat suka. Saya sangat cinta,” tutur Anggara, putra dari pasangan Mukarom, S.P dan Yenti Wulandari, asal Desa Padang, Kecamatan Singojuruh.
Merasa telah menemukan “narasumber terbaik” untuk masa depannya, Anggara pun tancap gas. Ia mengaku sengaja mempercepat proses pernikahan agar hubungan mereka segera menjadi halal dan barokah.
Tak hanya itu, rencana hidup pun telah ia susun rapi. Anggara menargetkan memiliki tiga orang anak—sebuah harapan sederhana dengan makna mendalam.
“Saya ingin punya anak tiga, karena saya sendiri tiga bersaudara. Kalau ada tiga, mereka bisa saling melindungi satu sama lain,” ucapnya penuh semangat.
Akad nikah Anggara dan Ria digelar di Dusun Belumbang, Desa Singolatren, Kecamatan Singojuruh. Doa dan restu mengalir dari rekan-rekan jurnalis, sahabat, kolega, serta keluarga besar kedua mempelai.
"Selamat menempuh hidup baru untuk Anggara dan Ria. Semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah," ujar Syamsul Arifin, Manager TIMES Indonesia Biro Banyuwangi, mewakili seluruh keluarga besar media online yang mengusung jurnalisme positif ini.
Karena terbukti, dari sekadar chattingan—jika sudah jodoh, pelaminan tetap menjadi pelabuhan. (*)
| Pewarta | : Fazar Dimas Priyatna |
| Editor | : Imadudin Muhammad |