TIMES BANYUWANGI, PATI – Kabupaten Pati menyimpan permata tersembunyi di Desa Sitiluhur, Kecamatan Gembong, yang dikenal dengan nama Bukit Naga Jolong. Terletak di lereng Gunung Muria, destinasi ini menawarkan kombinasi sempurna antara keindahan alam pegunungan yang asri dan pengalaman agrowisata yang unik, menjadikannya salah satu tujuan favorit bagi pelancong yang mencari kesegaran udara dataran tinggi.
Dirangkum dari beberapa sumber, nama "Bukit Naga" sendiri diambil dari hamparan luas kebun buah naga yang menjadi ikon utama kawasan tersebut. Menariknya, lokasi ini memiliki nilai sejarah yang kuat karena awalnya merupakan perkebunan kopi peninggalan era kolonial Belanda. Seiring berjalannya waktu, kawasan ini bertransformasi menjadi agrowisata modern dengan penambahan berbagai tanaman buah tanpa menghilangkan jejak historisnya.
Transformasi tersebut bertujuan untuk memperkaya daya tarik wisata sekaligus memberikan fungsi edukasi bagi para pengunjung. Wisatawan tidak hanya datang untuk sekadar melihat pemandangan, tetapi juga dapat mempelajari proses budidaya berbagai jenis tanaman. Keunikan utamanya tentu saja terletak pada kebun buah naga, di mana pengunjung diperbolehkan memetik dan menikmati buah segar langsung dari pohonnya.
Puncak bukit ini menawarkan panorama 360 derajat yang memukau bagi pecinta fotografi dan penikmat lanskap. (Foto: Istimewa)
Selain kekayaan nabati, Bukit Naga Jolong juga menyimpan warisan budaya berupa pabrik penggilingan kopi yang telah berdiri sejak zaman Belanda. Kehadiran pabrik ini memberikan sentuhan nostalgia dan nilai edukasi sejarah bagi siapa saja yang berkunjung. Jejak arsitektur dan mesin lama di dalamnya menjadi bukti bisu kejayaan industri kopi di masa lampau yang masih terjaga hingga kini.
Bagi pecinta fotografi dan penikmat lanskap, puncak bukit ini menawarkan panorama 360 derajat yang memukau. Dari titik ini, pengunjung dapat menyaksikan keindahan matahari terbit (sunrise) maupun matahari terbenam (sunset) yang spektakuler. Sudut pandang yang luas memungkinkan mata memandang sejauh cakrawala, menciptakan latar belakang foto yang sangat dramatis dan mempesona.
Fasilitas yang disediakan pengelola tergolong sangat lengkap untuk menjamin kenyamanan pengunjung. Mulai dari gazebo untuk bersantai, area permainan anak, kolam renang, hingga terapi ikan tersedia di sini. Tak hanya itu, terdapat pula kedai kopi dan warung makanan yang menyajikan kuliner lokal, didukung dengan fasilitas dasar seperti mushola, toilet, dan area parkir yang luas.
Wisatawan diperbolehkan memetik dan menikmati buah naga segar langsung dari pohon. (Foto: Istimewa)
Untuk menikmati seluruh keindahan ini, wisatawan tidak perlu merogoh kocek terlalu dalam. Harga tiket masuk dibanderol cukup terjangkau, yakni Rp15.000 per orang. Sementara itu, tarif parkir kendaraan pun sangat bersahabat, hanya Rp2.000 untuk sepeda motor dan Rp5.000 untuk mobil. Kawasan wisata ini siap menyambut pengunjung setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 17.00 WIB.
Akses menuju lokasi juga terbilang mudah dan dapat ditempuh dalam waktu sekitar 45 menit dari pusat Kota Pati. Sepanjang perjalanan, wisatawan akan disuguhi pemandangan pedesaan yang menyejukkan mata dan jalan yang memadai untuk kendaraan pribadi maupun umum. Dengan segala fasilitas dan pesona yang ditawarkan, Bukit Naga Jolong menjadi destinasi wajib bagi mereka yang ingin berwisata sambil belajar di Kabupaten Pati. (*)
Artikel ini sebelumnya sudah tayang di TIMES Indonesia dengan judul: Bukit Naga Jolong, Agrowisata Unggulan Pati yang Menyimpan Jejak Kopi Kolonial
| Pewarta | : Ezra Vandika |
| Editor | : Hendarmono Al Sidarto |