Seblang Bakungan Banyuwangi, Tradisi Sakral 1639 yang Masih Bertahan hingga Kini
Di tengah arus modernisasi yang terus berkembang, masyarakat Osing di Kelurahan Bakungan, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, tetap teguh menjaga warisan budaya leluhur yang telah hidup selama berabad-abad.
Banyuwangi – Di tengah arus modernisasi yang terus berkembang, masyarakat Osing di Kelurahan Bakungan, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, tetap teguh menjaga warisan budaya leluhur yang telah hidup selama berabad-abad.
Warisan budaya itu dikenal dengan nama Seblang Bakungan. Khazanah budaya sakral itu kembali digeber dan menjadi magnet bagi ribuan wisatawan yang menghabiskan libur panjang Idul Adha di Banyuwangi.
Ritual yang diyakini telah ada sejak tahun 1639 itu tidak hanya menjadi simbol pelestarian budaya, tetapi juga wujud kebersamaan warga dalam menjaga identitas leluhur mereka.
Setiap tahun, tepat sepekan setelah Hari Raya Idul Adha atau pada bulan Dzulhijah, masyarakat Bakungan menggelar rangkaian ritual yang sarat makna spiritual.
Prosesi diawali dengan salat Magrib dan salat hajat berjamaah di masjid setempat. Dalam suasana khusyuk, warga memanjatkan doa agar desa senantiasa diberikan keselamatan, ketenteraman, dan kesejahteraan.

Usai berdoa, suasana berubah menjadi semarak saat warga menggelar parade oncor atau obor keliling kampung yang dikenal sebagai “Ider Bumi”.
Cahaya obor yang menerangi jalan-jalan desa menghadirkan suasana magis sekaligus hangat. Di sepanjang rute, warga berkumpul menikmati tumpeng dan hidangan khas Osing, pecel pithik, yang disantap bersama di atas tikar sebagai simbol kebersamaan dan rasa syukur.
Puncak ritual berlangsung ketika penari Seblang memasuki arena pertunjukan. Tahun ini, peran tersebut kembali dibawakan oleh Isni (54), yang untuk ketiga kalinya dipercaya menjadi Seblang.
Dalam kondisi trance atau tidak sadarkan diri, Isni menari dengan mata terpejam mengikuti alunan gending tradisional seperti “Kodok Ngorek” dan “Seblang Lukinto”.
Bagi masyarakat setempat, kondisi tersebut diyakini sebagai pertanda hadirnya roh leluhur yang menyatu dengan penari selama ritual berlangsung.
Gerakan tari yang khas, iringan musik tradisional, serta suasana sakral yang menyelimuti arena pertunjukan membuat ribuan pasang mata terpaku menyaksikannya. Tak hanya wisatawan lokal, pengunjung mancanegara pun tampak antusias menikmati ritual yang langka tersebut.
Salah satunya adalah Gergo Zalatnai, wisatawan asal Hungaria. Dia mengaku terkesan dengan keunikan Seblang Bakungan yang belum pernah ditemuinya di tempat lain.
“Unik. Penarinya paruh baya dan sedang kehilangan kesadaran. Sangat tidak lazim, tapi justru itu yang membuat menarik. Saya belum pernah melihat seperti ini di tempat lain,” kata Gergo, Minggu (31/5/2026).
Kekaguman serupa disampaikan Riski, wisatawan asal Yogyakarta yang sengaja datang ke Bumi Blambangan untuk menyaksikan ritual tersebut.
“Terkesan, terasa magisnya. Selain itu saya juga kagum dengan warga di sini yang gotong royong terus menggelar acara ini setiap tahunnya,” ujarnya.
Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, mengapresiasi semangat masyarakat Bakungan yang terus menjaga dan melestarikan tradisi leluhur tersebut. Menurutnya, Seblang bukan sekadar pertunjukan budaya, melainkan warisan berharga yang merekatkan hubungan sosial masyarakat.
“Tradisi ini bukan sekadar upaya menjaga warisan leluhur, tetapi juga memastikan budaya lokal tetap eksis di tengah modernisasi. Ini juga menjadi ajang memperkuat semangat gotong royong dan persaudaraan warga,” tuturnya.
Di Banyuwangi, tradisi Seblang hanya dapat dijumpai di dua wilayah yang menjadi basis masyarakat Osing, yakni Kelurahan Bakungan dan Desa Olehsari. Meski memiliki akar budaya yang sama, keduanya memiliki ciri khas tersendiri.
Seblang Bakungan digelar setiap bulan Dzulhijah dan diperankan oleh perempuan paruh baya, sedangkan Seblang Olehsari dilaksanakan setelah Idulfitri dengan penari yang masih belia.
Keberadaan ritual yang telah bertahan hampir empat abad ini menjadi bukti bahwa tradisi dan modernitas dapat berjalan berdampingan.
Di tengah derasnya perubahan zaman, Seblang Bakungan terus menjadi penanda jati diri masyarakat Osing sekaligus etalase budaya kota berjuluk Sunrise of Java ini yang memikat perhatian dunia. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

