Tradisi Ithuk-Ithukan Banyuwangi, Festival Tradisi Wujud Syukur Masyarakat Osing
Masyarakat Dusun Rejopuro, arak-arakan membawa Ithuk menuju Sumber Hajar. (FOTO: Ikromil Aufa/TIMES Indonesia)

Tradisi Ithuk-Ithukan Banyuwangi, Festival Tradisi Wujud Syukur Masyarakat Osing

Masyarakat Dusun Rejopuro, Desa Kampunganyar, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, kembali menggelar tradisi Ithuk-Ithukan pada Rabu (29/4/2026). Tradisi khas Suku Osing ini menjadi bentuk ungkapan syukur atas keberadaan sumber mata air yang menopang kehidu

TIMES Banyuwangi,Sabtu 25 April 2026, 12:48 WIB
3.2K
S
Syamsul Arifin

BANYUWANGIMasyarakat Dusun Rejopuro, Desa Kampunganyar, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, kembali menggelar tradisi Ithuk-Ithukan pada Rabu (29/4/2026). Tradisi khas Suku Osing ini menjadi bentuk ungkapan syukur atas keberadaan sumber mata air yang menopang kehidupan warga.

Ithuk-Ithukan dilaksanakan setiap 12 Dzulqa’dah dalam kalender Islam. Tradisi ini tidak hanya menjadi agenda tahunan, tetapi juga bagian dari kearifan lokal yang terus dijaga masyarakat.

Sejak pagi hari, warga mulai mempersiapkan ithuk, yakni wadah makanan dari daun pisang yang dilipat. Di dalamnya berisi nasi lengkap dengan lauk khas, seperti pecel pitik atau ayam suwir berbumbu kelapa. Hidangan tersebut menjadi simbol rasa syukur yang kemudian dibagikan kepada masyarakat.

Sebelum prosesi inti, seluruh ithuk dan tumpeng pethetheng didoakan bersama. Suasana berlangsung khidmat dan menjadi bagian penting dalam rangkaian ritual.

Tradisi ini juga dimeriahkan arak-arakan budaya. Ratusan perempuan mengenakan busana khas Suku Osing berjalan beriringan membawa ithuk dan tumpeng, diikuti warga serta diiringi kesenian barong dan kuntulan menuju Sumber Hajar sebagai pusat kegiatan.

article
Masyarakat Dusun Rejopuro, menuju Sumber Hajar saat tradisi Ithuk-Ithukan. (FOTO: Ikromil Aufa/TIMES Indonesia)

Setibanya di lokasi, masyarakat kemudian menyantap hidangan bersama. Kegiatan ini menjadi simbol kebersamaan sekaligus mempererat hubungan antarwarga.

Ketua adat Rejopuro, Sarino, menyampaikan bahwa tradisi ini merupakan bentuk rasa syukur atas karunia alam yang tetap terjaga.

“Tradisi ini adalah bentuk rasa syukur masyarakat atas berlimpahnya mata air yang tidak pernah surut saat kemarau dan tidak meluap saat musim hujan,” ujarnya, Sabtu (25/4/2026).

Tradisi Ithuk-Ithukan yang diyakini telah berlangsung sejak 1617 ini terus dilestarikan oleh masyarakat setempat. Di tengah perkembangan zaman, nilai-nilai kebersamaan dan penghormatan terhadap alam tetap menjadi bagian utama dari pelaksanaan ritual tersebut.(*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita ini juga tayang di portal nasional

Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

Baca di sini
Penulis:Syamsul Arifin
|
Editor:Imadudin Muhammad

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Banyuwangi, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.