Tiban Sodo Purwo, Tradisi Warga di Banyuwangi Panggil Hujan
Tiban Sodo Purwo, kesenian rakyat khas Banyuwangi yang sejak lama dipercaya sebagai ritual pemanggil hujan sekaligus simbol kekuatan dan persaudaraan.
BANYUWANGI – Dentuman suara pecut bersahut-sahutan memecah suasana sore di kawasan Pasar Wit-Witan, Desa Karetan, Kecamatan Purwoharjo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Di tengah lingkaran arena sederhana yang dipadati warga, dua lelaki bertelanjang dada saling berhadapan dengan tatapan penuh semangat. Sesaat kemudian, cambuk dari lidi aren mendarat keras di tubuh lawan, memancing riuh tepuk tangan penonton.
Tradisi itulah yang kembali hadir dalam gelaran ‘Tiban Sodo Purwo’, kesenian rakyat khas Banyuwangi yang sejak lama dipercaya sebagai ritual pemanggil hujan sekaligus simbol kekuatan dan persaudaraan masyarakat setempat.
Selama sepekan penuh, mulai 10-17 Mei 2026, kawasan Pasar Wit-Witan berubah menjadi pusat keramaian budaya. Warga dari berbagai penjuru berdatangan untuk menyaksikan langsung atraksi yang sarat nilai tradisi tersebut.
Bagi masyarakat Banyuwangi, Tiban bukan sekadar tontonan adu cambuk. Tradisi ini merupakan warisan leluhur yang telah hidup sejak zaman nenek moyang dan terus dijaga keberlangsungannya hingga kini.
Dalam pertunjukannya, dua peserta akan saling bergantian mencambuk tubuh lawan menggunakan pecut yang terbuat dari lidi pohon aren yang dipilin. Bekas cambukan yang memerah di tubuh para pemain menjadi pemandangan khas yang selalu melekat dalam tradisi ini.
Meski terlihat keras dan ekstrim, suasana arena justru dipenuhi rasa persaudaraan. Seusai bertanding, para peserta tampak saling merangkul dan bercengkrama, seolah rasa sakit hanyalah bagian dari pengabdian terhadap budaya yang mereka cintai.
Koordinator kegiatan, Suharsoyo, mengatakan bahwa Tiban Sodo Purwo digelar sebagai bentuk kepedulian terhadap pelestarian budaya lokal di tengah derasnya pengaruh modernisasi.
"Kegiatan ini kami gelar dalam rangka melestarikan kesenian tradisional nenek moyang kita agar tetap eksis dan dikenal luas," ujar Suharsoyo, Jumat (15/5/2026).
Dia menaruh harapan besar kepada generasi Z dan milenial agar tidak abai terhadap warisan leluhur. Ia ingin tradisi ini terus hidup dan menjadi kebanggaan bagi pemuda setempat meski zaman terus bergerak ke arah digitalisasi yang serba modern.
"Harapan ke depan, semoga generasi muda jangan sampai lupa. Kesenian ini harus tetap dilestarikan. Meskipun di era modern seperti sekarang, kita harus tetap memegang teguh budaya sendiri," ungkapnya.
Di balik kerasnya atraksi cambuk, panitia tetap menerapkan aturan keselamatan yang ketat. Para peserta dilarang mengarahkan cambukan ke area wajah dan alat vital. Selain itu, penggunaan perlengkapan pengaman seperti helm diwajibkan demi menjaga keselamatan para pemain.
Salah satu peserta muda, Moch Bagus Tirta Samudra (22), warga Curahjati, Desa Grajagan, mengaku bangga bisa ikut ambil bagian dalam tradisi tersebut. Meski baru pertama kali mengikuti Tiban, ia merasa kesenian ini memiliki makna penting sebagai identitas budaya masyarakat Banyuwangi.
"Saya baru pertama kali ikut kesenian Tiban ini. Menurut saya sangat bagus diselenggarakan sebagai ajang nguri-uri budaya lokal agar tidak punah dimakan zaman," katanya.
Menariknya, kemeriahan Tiban Sodo Purwo tidak hanya menyedot perhatian orang dewasa. Anak-anak pun tampak antusias menyaksikan jalannya pertunjukan dari tepi arena dengan pengawasan ketat dari panitia dan orang tua. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

