Tanpa Legal Standing, HMI Banyuwangi Nilai Wacana Aksi Penurunan Bupati Bisa Rusak Demokrasi
Ketua PC HMI Banyuwangi, Ilham Layli Mursyidi. (FOTO: Dokumentasi TIMES Indonesia)

Tanpa Legal Standing, HMI Banyuwangi Nilai Wacana Aksi Penurunan Bupati Bisa Rusak Demokrasi

HMI Banyuwangi menolak terlibat dalam wacana penurunan Bupati Ipuk Fiestiandani dan Wabup Mujiono, menilai tidak ada dasar hukum yang jelas serta berpotensi merusak tatanan demokrasi dan stabilitas publik.

TIMES Banyuwangi,Rabu 6 Mei 2026, 11:00 WIB
1.3K
M
Muhamad Ikromil Aufa

BanyuwangiHimpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Banyuwangi menyatakan sikap tegas untuk tidak terlibat dalam wacana aksi penurunan Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, dan Wakil Bupati, Mujiono, yang belakangan beredar di ruang publik.

Sikap ini didasarkan pada pertimbangan rasional, terutama terkait ketiadaan landasan hukum atau legal standing yang jelas dalam tuntutan tersebut.
 

PC HMI Banyuwangi menilai bahwa dorongan untuk menurunkan kepala daerah tidak bisa dibangun hanya atas dasar opini, spekulasi, atau tekanan massa tanpa pijakan konstitusional. 

Dalam sistem demokrasi yang berlandaskan hukum, mekanisme pemberhentian kepala daerah telah diatur secara tegas melalui prosedur formal, bukan melalui mobilisasi aksi yang berpotensi melampaui batas etika dan legalitas.

"Setiap tuntutan politik harus memiliki basis hukum yang kuat. Tanpa itu, aksi penurunan kepala daerah justru berisiko menjadi preseden buruk bagi praktik demokrasi kita," tegas Ketua PC HMI Banyuwangi, Ilham Layli Mursyidi, Rabu (6/5/2026).

Lebih jauh, PC HMI Banyuwangi mengkritisi berkembangnya narasi yang cenderung simplistik dan provokatif, seolah-olah pergantian kepemimpinan dapat dilakukan secara instan melalui tekanan jalanan. 

Padahal, pendekatan semacam ini tidak hanya mengabaikan prinsip due process of law, tetapi juga berpotensi merusak tatanan demokrasi yang seharusnya dijaga bersama.

Selain itu, penyebaran isu tanpa verifikasi yang memadai dinilai sebagai bentuk pengaburan ruang publik yang sehat. Alih-alih mendorong akuntabilitas, narasi yang tidak berbasis data justru membuka ruang disinformasi dan memperlemah kepercayaan publik terhadap institusi demokrasi.

HMI menegaskan bahwa kritik terhadap pemerintah daerah tetap merupakan bagian penting dalam demokrasi. Namun demikian, kritik tersebut harus disalurkan melalui mekanisme yang sah, seperti pengawasan legislatif, jalur hukum, maupun partisipasi publik yang terukur dan bertanggung jawab.

Dengan demikian, HMI Banyuwangi mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tidak terjebak dalam euforia gerakan yang tidak memiliki legitimasi hukum. Stabilitas sosial dan kedewasaan berdemokrasi harus ditempatkan di atas kepentingan jangka pendek yang berpotensi menimbulkan instabilitas.

"Sebagai organisasi kader, HMI berkomitmen untuk terus mendorong budaya kritik yang berbasis argumen, data, dan kerangka hukum yang jelas, demi menjaga kualitas demokrasi yang substantif di Banyuwangi," tutup Ilham. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita ini juga tayang di portal nasional

Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

Baca di sini
Penulis:Muhamad Ikromil Aufa
|
Editor:Ferry Agusta Satrio

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Banyuwangi, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.