Besek Bambu Laku Keras, Perajin di Banyuwangi Justru “Menghilang”
Para pengrajin besek bambu di Lingkungan Papring, Banyuwangi. (FOTO: Dokumentasi TIMES Indonesia)

Besek Bambu Laku Keras, Perajin di Banyuwangi Justru “Menghilang”

Besek bambu asal Banyuwangi kembali naik daun seiring meningkatnya harga plastik dan tumbuhnya kesadaran masyarakat terhadap penggunaan kemasan ramah lingkungan.

TIMES Banyuwangi,Kamis 16 April 2026, 18:24 WIB
458
M
Muhamad Ikromil Aufa

BANYUWANGIBesek bambu asal Banyuwangi kembali naik daun seiring meningkatnya harga plastik dan tumbuhnya kesadaran masyarakat terhadap penggunaan kemasan ramah lingkungan. Permintaan pun melonjak dalam beberapa waktu terakhir dan membuat produk anyaman tradisional ini kembali banyak diburu pasar.

Di balik tingginya permintaan tersebut, para pelaku usaha justru dihadapkan pada persoalan yang tidak sederhana. Ketersediaan tenaga perajin semakin berkurang sehingga produksi tidak mampu mengimbangi jumlah pesanan yang terus berdatangan.

Kondisi tersebut terlihat di sentra kerajinan besek di Lingkungan Papring, Desa Kalipuro, Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi. Aktivitas produksi masih berjalan, namun jumlah perajin yang tersisa tidak sebanyak dulu. Banyak perajin lama yang sebelumnya aktif kini tidak lagi menekuni pekerjaan tersebut.

Tokoh setempat, Widie Nurmahmudy, mengungkapkan bahwa perubahan itu sudah berlangsung dalam beberapa tahun terakhir. Sebagian besar perajin yang didominasi ibu rumah tangga, memilih beralih ke sektor industri, khususnya pabrik pengolahan hasil perikanan.

Menurut Widie, pekerjaan di pabrik dianggap lebih menjanjikan karena memberikan penghasilan yang lebih pasti. Selain itu, para pekerja yang sudah terikat kontrak juga tidak leluasa untuk kembali menekuni kerajinan besek.

Di sisi lain, proses pembuatan besek membutuhkan ketelatenan tinggi dan waktu yang tidak singkat. Tahapannya cukup panjang mulai dari membelah bambu, memilah bahan, menjemur hingga menganyam dan merapikan bentuk. Semua proses tersebut harus dilakukan secara bertahap sehingga tidak bisa dipercepat.

Tantangan semakin terasa saat musim hujan. Proses pengeringan bahan menjadi lebih sulit dan berdampak pada lamanya waktu produksi.

“Kalau musim hujan, pengeringan susah. Dulu bisa dipanggang, sekarang masyarakat lebih banyak pakai kompor, tidak bisa (untuk pengeringan),” jelas Widie.

Akibatnya, terjadi ketimpangan antara tingginya permintaan pasar dan kemampuan produksi. Untuk menyiasati kondisi ini, sebagian pelaku usaha mulai melibatkan warga sekitar agar proses produksi tetap berjalan. Pekerjaan yang sebelumnya dilakukan sendiri, kini dikerjakan bersama secara gotong royong.

“Dulu dikerjakan sendiri. Kini, karena pesanan meningkat dan sering dihubungi, ibu saya mengajak emak-emak tetangga untuk membantu, mulai dari pemotongan hingga pembentukan,” ungkapnya.

Selain itu, pelaku usaha juga mulai mencoba mengembangkan produk berbahan bambu lainnya yang lebih mudah dikerjakan, seperti tas hampers. Langkah ini dilakukan agar usaha tetap berjalan di tengah keterbatasan tenaga kerja. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita ini juga tayang di portal nasional

Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

Baca di sini
Penulis:Muhamad Ikromil Aufa
|
Editor:Ferry Agusta Satrio

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Banyuwangi, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.