Analisis INDEF Pastikan Program MBG Tak Ganggu Kapasitas Fiskal Negara Jangka Panjang
TIMES Banyuwangi/Tangkapan layar - Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan INDEF M Rizal Taufikurahman memaparkan materi dalam diskusi publik yang diselenggarakan secara daring di Jakarta, Kamis (8/1/2026). (FOTO: ANTARA/Uyu Septiyati Liman)

Analisis INDEF Pastikan Program MBG Tak Ganggu Kapasitas Fiskal Negara Jangka Panjang

INDEF sebut program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak memperburuk posisi fiskal atau menambah utang negara jangka panjang. Program ini dirancang dengan desain fiskal netral melalui realokasi belanja.

TIMES Banyuwangi,Jumat 9 Januari 2026, 04:27 WIB
236.6K
A
Antara

JAKARTAInstitute for Development of Economics and Finance (INDEF) menyatakan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak memperburuk posisi fiskal maupun menambah utang negara dalam jangka panjang. Kesimpulan ini didasarkan pada analisis menggunakan model Overlapping Generation Indonesia (OG IDN).

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan INDEF, M. Rizal Taufikurahman, menjelaskan bahwa desain MBG bersifat fiskal netral melalui mekanisme realokasi belanja. “MBG tidak menambah utang, tapi realokasi (anggaran). Dan MBG tidak memperburuk posisi fiskal jangka panjang, meskipun memiliki manfaat kesejahteraan produktivitas antargenerasi,” ujarnya di Jakarta, Kamis (8/1/2026).

Rizal mengakui bahwa program ini memang berdampak sementara pada indikator fiskal seperti penerimaan pajak dan belanja pemerintah, namun fluktuasi tersebut tidak mengubah keseimbangan makroekonomi dalam jangka panjang. “Rasio ini kemudian kembali bertahan pada level keseimbangan yang sama dan MBG ini tidak mengganggu kapasitas fiskal negara secara struktural,” jelasnya.

Berdasarkan temuan tersebut, INDEF memberikan beberapa rekomendasi kebijakan untuk menjaga keberlanjutan program MBG:

  1. Pertahankan desain fiskal yang terjaga tanpa pembiayaan berbasis utang atau peningkatan defisit.

  2. Mempersempit target sasaran penerima manfaat untuk meningkatkan imbal hasil fiskal yang lebih optimal.

  3. Mengintegrasikan MBG dengan kebijakan pendidikan dan pasar kerja, karena peningkatan gizi saja tidak cukup tanpa diikuti peningkatan keterampilan dan ketersediaan lapangan kerja.

“Integrasikan MBG dengan kebijakan pendidikan dan pasar kerja. Ini harus diintegrasikan karena tanpa kebijakan lanjutan, peningkatan produktivitas MBG itu juga tidak bisa diaktualisasikan menjadi kenaikan upah maupun output yang permanen,” pungkas Rizal. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Penulis:Antara
|
Editor:Faizal R Arief

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Banyuwangi, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.