TIMES Banyuwangi/Sesepuh aktivis Banyuwangi, Eko Sukartono. (FOTO: Dokumentasi TIMES Indonesia)

Polemik terkait siswa SMAN 1 Genteng, Banyuwangi, Jawa Timur, yang dikeluarkan atau di-drop out setelah diduga melakukan kesalahan saat mengikuti kegiatan study tour ke Jakarta–Bandung–Yogyakarta, memicu reaksi dari kalangan sesepuh pergerakan di Bum

TIMES Banyuwangi,Kamis 13 Maret 2025, 14:16 WIB
13K
S
Syamsul Arifin

BANYUWANGIPolemik terkait siswa SMAN 1 Genteng, Banyuwangi, Jawa Timur, yang dikeluarkan atau di-drop out setelah diduga melakukan kesalahan saat mengikuti kegiatan study tour ke Jakarta–Bandung–Yogyakarta, memicu reaksi dari kalangan sesepuh pergerakan di Bumi Blambangan.

Tindakan yang dilakukan oleh satuan pendidikan di bawah naungan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, yang dipimpin oleh Kepala Sekolah (Kepsek) Minarto, S.Pd., M.T., dianggap keterlaluan, melampaui batas kewajaran, serta terkesan mengabaikan tugas pembinaan yang melekat pada profesi guru.

"Kami sangat menyayangkan. Seharusnya unsur pembinaan lebih ditonjolkan oleh para guru SMAN 1 Genteng," ujar Eko Sukartono, Kamis (13/3/2025).

Eko Sukartono merupakan salah satu sesepuh aktivis Banyuwangi dan politisi senior di Bumi Blambangan.

Siswa Dikeluarkan Sepihak Pascastudy Tour

Sebagaimana diketahui, setelah kegiatan study tour ke Jakarta–Bandung–Yogyakarta yang digelar SMAN 1 Genteng pada 2–8 Februari 2025, sejumlah siswa dikeluarkan secara sepihak oleh pihak sekolah. Mereka divonis telah melakukan kesalahan selama study tour.

Padahal, kegiatan tersebut dilaksanakan di bawah pendampingan dan pengawasan sejumlah guru SMAN 1 Genteng. Artinya, segala hal yang terjadi pada siswa selama study tour seharusnya menjadi tanggung jawab pihak sekolah. Namun, ketika terdapat siswa yang diduga melakukan kesalahan, SMAN 1 Genteng justru terkesan cuci tangan dan menyalahkan peserta didik yang masih di bawah umur.

Menanggapi hal tersebut, Mbah Eko—sapaan akrab Eko Sukartono—menegaskan bahwa seorang guru adalah orang tua kedua bagi siswa setelah orang tua kandung. Sekolah juga merupakan lembaga pendidikan sebagai bentuk kehadiran pemerintah dalam mencerdaskan kehidupan bangsa serta membangun budi pekerti luhur.

"Dengan demikian, sudah seharusnya pihak sekolah tidak langsung memberikan vonis dengan mengeluarkan siswa dari sekolah. Mereka harus dibina terlebih dahulu," ungkap Mbah Eko.

"Apalagi, dalam kasus SMAN 1 Genteng, dugaan kesalahan yang dilakukan oleh siswa terjadi saat kegiatan study tour. Itu jelas berada di bawah pengawasan guru. Maka, seharusnya guru bertanggung jawab," imbuhnya.

Guru Harus Ikut Bertanggung Jawab

Sesepuh aktivis Banyuwangi ini juga berpendapat bahwa jika ada siswa yang melakukan kesalahan dalam kegiatan sekolah, guru seharusnya turut bertanggung jawab.

"Analogi sederhananya begini, serangkaian kejadian tersebut sebenarnya tidak akan pernah terjadi jika tidak ada study tour. Yang kedua, jika tidak ingin melakukan pembinaan terhadap siswa, ya jangan jadi guru," tegasnya.

Ketua LSM Rejowangi sekaligus Ketua Asosiasi Pekerja Konstruksi Nasional (Aspeknas) Banyuwangi ini juga meminta Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kabupaten Banyuwangi, Ahmad Jaenuri, S.Pd., M.Pd., serta Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, Dr. Aries Agung Paewai, S.STP., M.M., untuk tidak tinggal diam terhadap kasus study tour SMAN 1 Genteng.

"Harus ada sikap konkret dan tegas," ujar Mbah Eko.

Sebagai bentuk kepeduliannya terhadap dunia pendidikan, Mbah Eko berencana mengajukan permohonan audiensi ke DPRD Banyuwangi. Menurutnya, langkah ini penting karena menyangkut nasib siswa yang masih di bawah umur dan perlu diperjuangkan.

"Para siswa ini adalah generasi penerus bangsa dan bagian dari masyarakat Banyuwangi. DPRD Banyuwangi sebagai wakil rakyat harus tahu dan ikut memperjuangkan nasib mereka," ujarnya.

Kronologi Polemik Study Tour SMAN 1 Genteng

Polemik terkait study tour di SMAN 1 Genteng mencuat setelah sejumlah siswa dikeluarkan secara sepihak oleh pihak sekolah. Mereka diduga melakukan kesalahan saat pelaksanaan study tour ke Jakarta–Bandung–Yogyakarta yang berlangsung pada 2–8 Februari 2025.

Padahal, kegiatan study tour tersebut berada di bawah pendampingan dan pengawasan guru. Namun, ketika ada siswa yang disinyalir melakukan kesalahan, pihak sekolah bukan meminta maaf atau bertanggung jawab kepada wali murid, melainkan justru menyalahkan siswa.

Berdasarkan penelusuran TIMES Indonesia, salah satu siswa yang dikeluarkan oleh pihak SMAN 1 Genteng setelah study tour adalah E, siswa kelas XI. Ia merupakan putra dari HS, warga Desa Genteng Kulon, Kecamatan Genteng, Banyuwangi.

Namun, hingga berita ini ditulis, Kepala SMAN 1 Genteng, Minarto, belum memberikan tanggapan atas konfirmasi yang diajukan TIMES Indonesia. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Penulis:Syamsul Arifin
|
Editor:Imadudin Muhammad

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Banyuwangi, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.